Liputan Khusus Tribun Jabar
Telat Satu Jam Itu Biasa
Warung makan di Jatinangor sudah bertebaran sejak lama. Mereka berebut pelanggan dengan berbagai cara.
BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID - Warung makan di Jatinangor sudah bertebaran sejak lama. Mereka berebut pelanggan dengan berbagai cara.
Satu di antaranya adalah delivery order. Fasilitas pesan-antar yang baru dua tahun muncul sangat digandrungi mahasiswa, terutama karena pelayanannya 24 jam.
Kondisi Jatinangor yang benar-benar sepi saat menginjak tengah malam memang menjadi alasan layanan ini sangat digemari. Hampir semua aktivitas di Jatinangor "berakhir" pukul 22.00 WIB.
"Saat tengah malam kalau lapar dan malas keluar, delivery order ini menjadi pilihan utama," ujar Rezky (20), mahasiswi Unpad yang indekos di kawasan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, kepada Tribun, belum lama ini.
Hal senada diungkapkan Hilaria Norma Wigati (22), mahasiswa Unpad yang juga indekos di Jatinangor. Menurut Hilaria, ia dan sejumlah temannya bahkan sudah menjadi langganan layanan pesan-antar makanan ini sejak tingkat pertama kuliah, sekalipun jarak warung makan terdekat dari tempat mereka tinggal hanya sekitar lima meter.
"Layanan delivery order membuat kita tak perlu beranjak dari tempat kos untuk mendapat makanan. Delivery order juga membuat kami tak pernah lagi khawatir kelaparan pada tengah malam," ujarnya.
Nama Unik
Warung makan yang melayani pesan-antar 24 jam memang tak selengkap warung makan biasa. Warung makan dengan layanan pesan-antar 24 jam hanya menyajikan menu-menu makanan dan minuman standar yang biasa dinikmati oleh mahasiswa. Namun, selain layanan pesan-antarnya yang 24 jam, warung jenis ini juga sangat bersaing dalam sisi harga.
"Pokoknya sesuai lah dengan kantong mahasiswa," kata Farhan Fauzi (21), mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unpad. "Enggak masalah sekalipun makanan yang dijual standar."
meski makanannya standar, ujar Farhan, menu yang ditawarkan tetap menarik karena nama-namanya yang unik.
"Ada namanya nasi telor diamond. Namanya memang unik, padahal menunya biasa aja."
Selain sebagai penyelamat mahasiswa yang "kelaparan" lepas tengah malam, layanan pesan-antar makanan ini, menurut Reza (23), yang sempat aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Unpad (BEM Kema Unpad), juga sering digunakan saat mahasiswa menggelar rapat. Apalagi, ujarnya, layanan ini tak terlalu "hitungan" soal jarak.
"Buktinya, sekalipun jarak tempat saya indekos dengan warung makan pesan-antar ini lumayan jauh, mereka tetap bersedia mengantarkannya," ujar Reza.
Sering Telat
Meski demikian, layanan pesan-antar ini bukan tanpa kelemahan. Jika kebetulan banyak yang memesan pada saat yang sama, pesanan kerap tidak tiba tepat pada waktunya.
"Kadang untuk satu pesanan bisa lebih dari satu jam. Pas makanannya sampai sudah dingin. Malah, kadang suka lupa hal-hal kecil seperti sendok atau tidak sesuai pesanan, atau malah suka tidak bawa (uang) kembalian," ujar Rezky, mahasiswa Unpad lainnya.
Agar dapat melayan pesanan dengan tepat waktu, sejumlah warung makanan penyedia jasa layanan pesan-antar akhirnya terpaksa menambah karyawannya.
"Kami ada lima pekerja saja, itu juga dibagi beberapa sif setiap harinya," ujar Apong, pemilik warung makan Munjul yang melayani deliveri order di Jatinangor.
Sejumlah upaya juga dilakukan Iis, pemilik warung makan Gembul di Jatinangor.
"Namanya bisnis makanan, banyak pesaing-nya. Jadi pinter-pinternya kita saja, bagaimana supaya pelanggan puas," ujarnya.(tj1/tj2/tj3)
Bagaimana operasional kerja dan suka dukanya membuka bisnis tersebut dan apa menfaat lebih yang dirasakan konsumen? Baca selengkapnya di Tribun Jabar edisi cetak hari ini, Jumat (6/5/2016). Ikuti berita-berita menarik terbaru lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/hl-tribun-6-mei-2016_20160506_092839.jpg)