Breaking News:

Cerpen Eko Triono

Maesa-Sima, Perempuan Sembilu

KERETA berganti jalur dan kisah itu mengiang di kepalaku, berkelindan ingin mengingatkan lagi. Kamis, 31 Juli 1789. Atau hari ke-27 Syawal.

Ilustrasi Maesa Sima, Perempuan Sembilu 

Tak lama, sebab hasrat saling berkuasa membuat Mangkubumi dan Mangkunegara berpisah koalisi.

Dan Perempuan Sembilu tetap ada dalam pasukan Mangkunegara. Ia mencari cintanya, Dirjo, namun hanya dua kali bertemu. Sampai tanggal 10 Februari 1773, putra mahkota, Pangeran Buminata, bergabung dengan Mangkunegara.

(baca juga: Begini Perasaan Anji Saat Bertemu Anak Sheila Marcia Setelah Lima Tahun Berpisah)

Dan dua tahun setelahnya, ada kejutan. Von Hohendroff menegosiasi pembelotan Mangkunegara, tapi tawaran ditolak. Justru, kubu Mangkubumi yang menerima, dan Mataram dibagi dua.

Mangkunegara tidak punya banyak pilihan. Ia akhirnya mengakui Pakubuwono III sebagai raja Surakarta. Ia sendiri mendapat gelar Pangeran Adipati Mangkunegara dengan 4.000 cacah sunan di Kaduwang, Matesih, dan Gunung Kidul.

Ia membangun keraton Mangkunegaran di tengah kota Surakarta dan membangun kekuatan pasukan, termasuk pasukan perempuan. Dan tak lama kemudian, ia dengar kabar, Dirjo mendapat jabatan lebih tinggi dan menikah dengan perempuan lain.

"Kamu kuhadiahkan untuk seorang bupati," ujar Pangeran Adipati, yang membuka kisah hidupnya, hingga kelak pada Jumat, memendam daging dirinya dalam tanah hujan.

/telu/

SEBAGAI hadiah dari Pangeran Adipati, ia mendapat perlakuan istimewa yang baginya menyakitkan. Ia istri kedua. Istri pertama bupati ini sudah tiga bulan meninggal dunia. Tidak ada kepuasan malam itu.

"Mengapa engkau bersikap seperti ini?"

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved