Breaking News:

Cerpen Eko Triono

Maesa-Sima, Perempuan Sembilu

KERETA berganti jalur dan kisah itu mengiang di kepalaku, berkelindan ingin mengingatkan lagi. Kamis, 31 Juli 1789. Atau hari ke-27 Syawal.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Maesa Sima, Perempuan Sembilu 

/loro/

IA ikut bergabung sebab seorang pemuda bernama Dirjo. Pemuda tersebut cerita tentang pasukan Mangkunegara di Sukowati. Ia membayangkan saat besar nanti, ikut gabung. Ia bilang: Kudengar, ada juga pasukan perempuan.

(baca juga: Yakin Penanggulangan Banjir Hampir Berhasil, Ahok: Masih Ada Cerita Sinetron Kampung Pulo Enggak?)

Tak lama setelah itu, Mangkubumi, saudara tiri Pakubuwono II, menghancurkan markas Mangkunegara di Sukowati. Mangkunegara atau Mas Said adalah putra Pangeran Arya Mangkunegara, adik Pakubuwono II yang dibuang ke Tanjung Harapan, Afrika. Pasukan yang dituding berontak itu dipukul mundur.

Dikisahkan, usia 14 tahun, Mangkunegara bersama orang-orang Tiongkok dan Sunan Kuning ikut berontak pada Belanda.

Kekalahan membuat Sunan Kuning atau Raden Mas Garendi dibuang ke Sri Lanka pada tahun 1743.

Kemudian, lambat tapi pasti, Mangkunegara menjadi daya tarik, sekaligus daya curiga. Ia mengepung Surakarta, menuntut hak atas kerajaan. Akibatnya, pasokan barang utama ke kotapraja langka. Pakubuwana sampai-sampai menawarkan 3.000 cacah di Sokowati bagi siapa yang bisa mengusir Mangkunegara, si pembuat krisis ekonomi dan politik.

"Dan aku akan pergi," kata Dirjo. "Aku ingin menjadi prajurit, lalu panglima, lalu...."

Lalu keduanya terpisah, sampai suatu masa.

Masa itu adalah saat Mangkubumi berbalik gabung dengan Mangkunegara. Ia merasa dikhianati atas janji imbalan penaklukan. Ia melakukan perlawanan. Kebutuhan akan pasukan semakin bertambah. Dan, pada hari Rabu pasaran manis, Perempuan Sembilu bergabung sebagai pasukan elite perempuan.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved