Breaking News:

Cerpen Yetti A KA

Di Bawah Payung Merah

KERETA api lewat dan ia bertanya, merokok? Aku menggeleng sembari tersenyum, aku sudah berhenti. Belakangan, dadaku sering sesak.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Di Bawah Payung Merah 

Tidak sedikit pun.

Konon, ketika orang bersembunyi dan tidak ingin ditemukan, maka tidak satu pun kekuatan yang bisa menembus dinding yang ia buat itu. Aku percaya sekali tentang itu, bahkan kutulis dalam sebuah novel.

Itu terdengar bagus sekali.

Kau nyaris tidak pernah memuji dengan tulus.

Kamu tidak berubah, sering berpikir buruk tentangku.

Memang tidak, sesalku, kecuali kalau ternyata aku bisa benar-benar tidak kembali kepadamu setelah aku keluar dari pintu malam itu. Aku belum pernah berhasil sebelumnya, bukan? Dulu, aku selalu kembali tak lebih dari sepuluh menit setelah aku bilang, 'aku akan pergi selamanya.'

Ya, kau benar-benar berhasil melakukannya dan aku tidak pernah memercayainya.

Kereta api kembali lewat. Suaranya terasa berbeda karena datang bersamaan dengan turunnya gerimis. Aku mendongak ke atas. Ke arah payung merah besar yang menaungi kami di halaman kafe di dekat rel. Ia barangkali mengira aku sedang memperhatikan titik-titik kecil yang berjatuhan perlahan, padahal sesungguhnya aku sedang menahan air mataku yang mendesak ingin keluar. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved