Jumat, 24 April 2026

Lindungi Hiu Paus Tutul Agar Jadi Atraksi Wisata Konservasi Laut

dilarang menyentuh dengan sengaja, bahkan memotret pun tidak boleh menggunakan flash. Tidak boleh menggunakan motor 

Editor: Machmud Mubarok
WIKIMEDIA COMMON
Ilustrasi jenis hiu putih. 

GORONTALO, TRIBUNJABAR.CO.ID - Hiu Paus tutul menghebohkan warga Gorontalo. Mamalia air laut yang dikenal dengan nama Rhincodon Typus itu tiba-tiba hadir dan menjadi objek wisata dadakan di pantai Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.

Sayang, tidak banyak yang paham konservasi, sehingga ikan jenis langka yang jinak ini menjadi "mainan" pengunjung yang tidak paham. 

Ada yang pegang-pegang badan dan siripnya, ada yang menyentuh kepalanya, ada yang mendekat dengan perahu nelayan, semua itu tidak direkomendasi. Bahkan, para diver atau penyelam di media sosial heboh, menyesalkan perilaku warga Itu.

"Mohon pengunjung jangan ada yang menyentuh ikan raksasa itu," kata Cipta AG, Tenaga Ahli Wisata Bawah Laut Kemenpar dalam rilisnya kemarin.

Apalagi, dari sekitar 8 ekor hiu paus yang terpantau, tiga di antaranya mulai mengalami luka-luka di bagian mulut, sirip dan beberapa bagian tubuhnya. Selain itu, pada beberapa bagian tubuh hiu paus itu terdapat bercak cat berwarna hijau dan merah muda yang diduga akibat senggolan dengan perahu yang ditumpangi pengunjung. Banyak pengunjung yang snorkeling dan terlalu dekat, bahkan berpegangan pada sirip hingga menyentuh tubuh hiu dengan leluasa. 

Di medsos, cara memperlakukan hiu paus seperti ini dikritik para divers dan pencinta lingkungan. "Hal mendasar dan penting untuk diketahui masyarakat adalah, dilarang menyentuh dengan sengaja, bahkan memotret pun tidak boleh menggunakan flash. Tidak boleh menggunakan motor dan tidak menghalangi pergerakan natural dari hiu paus. Mohon hal ini dipahami dengan baik, kita harus menjaga kelestarian mereka," harap Cipto AG. 

Beberapa foto yang diunggah di Facebook dan media sosial lain memang menunjukkan cara yang agak membahayakan hiu paus itu. Kelihatannya friendly, bersahabat, bergurau, atau bahkan hanya untuk kepentingan pengambilan foto-foto saja. Mungkin, mereka juga tidak terlalu paham, bahwa cara itu membahayakan hiu hiu paus itu. Atau juga membahayakan dirinya sendiri. 

"Sekali lagi, mohon jangan disentuh hiu hiu paus itu. Biarkan mereka bebas dan tidak terganggu oleh kita. Di dunia sudah ada norma-norma konservasi yang diterapkan untuk atraksi 'Marine Species Watching' semacam ini," kata Cipto AG lagi. 

Masyarakat Gorontalo sendiri sebenarnya sudah sangat familiar dengan ikan hiu paus tutul yang panjangnya bervariasi antara 5-7 meter itu. Tiap tahun, konon hiu jenis ini yang bobotnya sekitar 20 ton iu sudah biasa mampir di kawasan itu. Karena itu, hiu paus itu sudah menjadi atraksi warga yang bukan hanya sekali ini saja. 

Orang Gorontalo menyebutna dengan istilah ikan munggiyango hulalo, ikan hiu paus. Konstruksi mulutnya seperti paus, tidak buas, tidak ganas, bukan predator manusia, tetapi besarnya lebih mirip hiu besar. Ikan ini termasuk jenis yang ramah, jinak dan muncul setiap musim nike. 

Inilah waktu yang baik untuk mengedukasi publik, terutama warga Gorontalo. Menpar Arief Yahya juga mengingatkan, friendly dengan ikan langka dan berukuran raksasa itu baik-baik saja. Tetapi jangan sampai itu justru membuat ikan tersebut berpotensi punah. Binatang itu harus dilestarikan, bersamaan dengan habitat dan lingkungan hidup tempat mereka hidup dan berkembang. "Ingat, semakin dilestarikan, semakin mensejahterakan," kata Menpar Arief Yahya. 

Hiu Paus itu, menurut Arief Yahya, bisa menjadi atraksi terbaik dunia. Tidak ada tempat di dunia yang ada ikan langka dari lautan bebas, yang merapat ke pantai dekat pemukiman, berlama-lama di situ, dan tidak ganas. "Biarkan itu menjadi tontonan khas, atraksi yang tidak ada dunianya di seluruh dunia. Itu akan mengangkat pamor Gorontalo, dengan destinasi yang mendunia. Asal dilestarikan," ungkap dia. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved