TERAS

Di Luar Jalur

Kita yang hidup di zaman sekarang bersyukur telah memiliki orang-orang hebat yang mau berada di luar jalur.

Di Luar Jalur
TRIBUN JABAR
Cecep Burdansyah 

Oleh Cecep Burdansyah

BUITEN het Gareel adalah novel yang ditulis dalam bahasa Belanda oleh perempuan berdarah Sunda. Artinya “Di Luar Jalur”. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Manusia Bebas. Novel yang asyik karena menggambarkan perjuangan orang-orang pergerakan yang menghendaki terjadinya perubahan.

Novel ini ditulis tahun 1939, merupakan salah satu novel yang menggambarkan dinamika orang- orang pergerakan yang berpikiran modern tapi juga sekaligus ingin melawan kecabulan modernisme. Ada paralelisme antara semangat zaman dengan karya sastra. Mungkin era sekarang disebutnya sastra kontekstual.

Sudarmo dan Sulastri hanyalah tokoh fiktif. Di luar novel, sungguh banyak orang yang termasuk kategori “di luar jalur”. Sebut saja Tirto Adisuryo, Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka, Agus Salim, Kartosuwiryo, dan banyak lagi. Seperti Sudarmo dan Sulastri, mereka bisa dilihat dari salah satu kebiasaannya, atau mungkin menjadi karakternya, tahan berlama-lama berdiskusi dan berdebat, mempunyai stamina panjang untuk menulis, baik pemikiran maupun cerita, tidak gentar menghadapi tekanan penguasa kolonial, dan tidak cengeng dengan kesulitan ekonomi, bahkan terbiasa didera lapar.

Baik mereka yang merasakan pendidikan Eropa maupun tidak, bahkan yang sama sekali tidak sekolah seperti Agus Salim, alam berpikirnya sangat modern, tapi mampu melihat kecabulan modernisme. Alam modern tidak tegak lurus dengan pengakuan pada hak dan martabat manusia. Kemanusiaan bisa terjengkang ketika negara-negara Eropa melihat negaranya sangat terbatas sumber daya alam, sementara nun jauh di sana banyak negara yang berlimbah sumber daya alamnya. Mereka menjelajah, lalu tiba di seberang laut dan berteriak, "Horeee kita menemukan!” Seakan-akan tanah yang dipijaknya tidak berpenghuni dan orang-orang Eropa merasa punya hak memperlakukan sebagai sapi perah. Di situlah orang-orang “di luar jalur” kemudian berteriak, seperti Tirto Adisuryo yang berusaha keras menerbitkan koran, Tjokroaminoto mendirikan organisasi pergerakan, Soekarno dalam pembelaannya di Gedung Indonesia Menggugat. Juga Tan Malaka dalam pelariannya.

Mereka berada di luar jalur karena tidak mau tunduk pada sistem yang diterapkan penjajah. Mereka rindu bangsanya berdiri di atas kaki sendiri. Soekarno mengatakan berdikari dalam politik, ekonomi, dan budaya. Tan Malaka dengan lantang mengatakan, tidak mungkin berdaulat secara politik apabila ekonomi masih tergantung dan didikte oleh negara-negara pengimpor kapitalis.

Jejak mereka masih terendus lewat tulisan-tulisannya. Semangat mereka masih berdenyut dan terasa bagi orang-orang yang jiwanya ikut berdetak serta mampu menangkap zaman. Kita bisa membaca Sang Pemoela dan tetralogi karya Pram, Manusia Bebas karya Suwarsih Djojopuspito, Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno, Madilog karya Tan Malaka, dan yang lainnya. Mereka adalah manusia tanda-tanda zaman, berada di luar jalur, untuk kepentingan bangsanya.
Kita yang hidup di zaman sekarang bersyukur telah memiliki orang-orang hebat yang mau berada di luar jalur. Tidak keliru jika di antara kita yang hidup sekarang ingin menghormati mereka dengan jalan mengekspresikan diri lewat diskusi karya mereka, atau mementaskan mereka lewat kesenian, seperti yang biasa dilakukan oleh kelompok Mainteater, mulai Soekarno, Inggit Garnasih, hingga yang terbaru Tan Malaka.

Sekarang kita sudah bukan zamannya lagi berada di luar jalur. Kritik yang disampaikan sekeras apa pun, asal tertuju pada substansi masalah, tidak akan mengalami nasib untuk dibuang dan diasingkan, atau dikejar-kejar seperti Tan Malaka. Kekuasaan sekarang tidak lagi angker, tidak seperti pentungan di era kolonial.

Tapi karena kekuasaan seperti karet yang mudah melar, kini muncul orang-orang di luar kendali, orang-orang yang suka main paksa dan kekerasan jika tidak sependapat dengan mereka. Mereka suka membubarkan diskusi, suka menghentikan pentas teater, seakan-akan cara berpikir itu harus seragam dan harus sama dengan keinginannya. Mereka takut komunis, tapi justru mereka yang memproduksi rasa takut. (*)

Penulis: cep
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved