Breaking News:

Cerpen Astuti Parengkuh

Mawar Putih di Batu Candi

TUBUHMU menyimpan jutaan buluh rindu kepada seseorang dari masa lalu. Kau berjalan ke arah deretan kursi berwarna hijau daun.

Ilustrasi Cerpen Mawar Putih di Batu Candi 

"Kau terlambat, Runa. Abi telah dimakamkan sore kemarin. Maafkan kami," pelukan ibunda Abi nyaris membuatmu jatuh pingsan. "Maafkan kami pula, karena telah menjodohkan Abi dengan Katrin, sama-sama pasien kanker di rumah sakit, di mana mereka dulu tengah dirawat. Katrin lebih mendahuluinya pergi. Setahun lalu," perempuan sepuh itu masih dengan kata-kata. "Abi ingin dimakamkan di sini, di desa ini. Karena di hari-hari terakhir yang diingatnya adalah engkau. Namamu selalu terucap."

Hari itu pula, telah kauputuskan untuk mengunjungi makam Abi, dengan membawa setangkai mawar putih yang kaupetik dari taman batu candi. Kau bersimpuh sambil berdoa di tanah yang masih memerah. Beberapa jenak. Hingga usai dan melangkah gontai sampai kaubaca sebuah pesan pendek yang muncul di layar ponselmu. "Mommy kapan pulang? Aku kangen."

Di layar tertulis nama suamimu.

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved