Cerpen Dadang Ari Murtono

Cara Memanjat Layang-layang dan Mendarat dengan Selamat

SATU jam sebelum pasukan Bhayangkara membongkar mulut, mata, dan telinganya, Sungging Adi Luwih teringat suatu hari ketika kakeknya bercerita ...

Cara Memanjat Layang-layang dan Mendarat dengan Selamat
Ilustrasi Cara Memanjat Layang layang dan Mendarat dengan Selamat 

Hanya Hayam Wuruk, tentu saja, yang mengerti bahwa ada tahi lalat di tepi kelamin istrinya. Dan ketika ia melihat lukisan itu, ia merasa menemukan sebuah alasan untuk menuntaskan kekecewaannya atas peristiwa belapati Pitaloka. "Bagaimana bisa kau menggambar tahi lalat di situ?" serunya. "Kecuali kamu pernah berbuat serong dengannya!"

"Tapi saya tidak menggambarnya, Paduka."

"Semua orang yang melihat lukisan ini tahu kau menggambarnya, Prabangkara. Dan ini, Prabangkara, menjelaskan kenapa Pitaloka memutuskan belapati."

"Gusti putri Pitaloka belapati karena Gajah Mada membunuh semua orang Sunda di Bubat, Paduka."

"Pitaloka belapati karena di Sunda kau telah memaksanya berbuat cabul. Dan karena itu, ia tidak pernah mau menikah denganku. Ia datang ke Mahapahit hanya karena paksaan orang tuanya. Dan begitu mengetahui ramanya tewas di tangan Gajah Mada, ia mendapatkan kebebasannya dan memilih bunuh diri daripada menikah denganku."

"Itu tidak benar, Paduka."

"Itu benar. Dan karena kau berdosa, Prabangkara, maka kau harus dihukum."

Hukuman itu terjadi keesokan harinya, tepat ketika di sebuah rumah, istri Prabangkara bersabung nyawa melahirkan anak pertama sekaligus satu-satunya. Kelak, anak ini akan dinamai Sungging Adi Luwih, dan dengan sebab yang berbeda, ia juga akan menjalani hukuman dari sang raja. Dan pada hari itu pula, Prabangkara mengetahui kenapa dulu ayahnya menyuruhnya belajar cara memanjat layang-layang dan mendarat dengan selamat.

Gong raksasa telah dibunyikan sebanyak tiga kali di alun-alun Wilwatikta. Hayam Wuruk berdiri dalam segenap pesona dan kewibawaannya memberi perintah agar hukuman dilaksanakan. Seorang algojo dengan pedang besar memberikan pilihan: mati dipenggal atau naik ke sebuah layang-layang yang telah disiapkan. Nantinya, ketika layang-layang itu telah sampai di puncak ketinggian yang bisa dicapai, benang layang-layang itu akan diputus dan Prabangkara akan terempas entah di mana, tentu saja dengan tubuh hancur. Prabangkara, tentu saja, memilih memanjat layang-layang.

Hanya ayahnya, Prapanca, dan Prabangkara sendiri yang tahu bahwa tubuhnya tidak akan hancur. Angin membawa layang-layang yang telah putus, berikut Prabangkara di atasnya, sampai ke negeri Cina. Di sana, konon, Prabangkara bertemu dengan seorang gadis. Mereka menikah dan hidup bahagia selama-lamanya, tanpa pernah sedikit pun tebersit keinginan untuk kembali ke Majapahit dan membiarkan Hayam Wuruk puas dengan prasangka sendiri.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved