Breaking News:

Cerpen Risda Nur Widia

Kelepak Sayap Malaikat Kematian

TAK pernah menyangka sebelumnya sekelebat cahaya yang melintas di depannya itu kini tiba-tiba berubah menjadi sesosok mahkluk dengan sepasang sayap...

Ilustrasi Kelepak Sayap Malaikat Kematian 

"Lihatlah! Itu adalah kau bersama dosa-dosamu, Tarno!" Sosok itu berujar.

Pria itu tak menjawab, dan tak lekang pandangannya menempel pada setiap klise waktu yang berputar-putar di kepak sayap itu. Bayangan-bayangan lain mulai saling menyusul; menyebul-nyebul, beriringan dengan empas angin kencang. Dan pria itu merasa sedang melaju dalam sebuah arus kepedihan masa lalu. Sampai ia terenyak dalam tangisnya yang bisu.

Ia terpaku memperhatikan setiap bayang-bayang dalam sekepal sayap yang menyerupai langit itu. Tanpa ia sadari, isi kepalanya pun seakan melesat ke suatu peristiwa di masa lalu. Ia ingat: setiap kejadian di dalam kelepak sayap itu—peristiwa yang terjadi sekitar sepuluh tahun lalu—ketika ia masih aktif sebagai seorang pengacara.

Saat itu sebagai seorang yang bekerja di ranah hukum, pria itu tak pernah sekali pun membela hak-hak kaum tertindas. Malah ia sebaliknya. Semua energi dan daya kukuh ia sumbangkan untuk membela perkara para koruptor dan mafia hukum yang dianggapnya banyak menghasilkan untung bagi dirinya. Ia mempertahankan kebusukan demi kebusukan dengan mati-matian; membenarkan setiap kesalahan hingga menjadi lumrah. Bahkan di dalam kelepak sayap itu, ia melihat dirinya berubah menjadi seekor anjing yang menjilat-jilat kemaluan para penguasa; kemaluanya sendiri pula. Ia menjadi anjing!

Selain menjadi anjing, ia melihat sosoknya sendiri yang berubah menjadi seorang iblis yang tak henti mengintimidasi rakyat kecil tak bersalah. Tak segan, ia pun memutarbalikkan fakta; bahkan menghapus sejarah kelam kemanusiaan dari para aktivis yang telah memperjuangkan hak-hak rakyat. Tidak sampai di situ! Ia mendapati arogansi diri saat menghabisi atau menculik satu per satu orang-orang yang dianggap menghalanginya; membungkam para hakim dengan uang suap. Pria itu kembali menangis. Namun tanpa ia sadari, tak ada air mata yang mengucur dari sepasang matanya....

**

KEMUDIAN pendar bayang-bayang itu semakin cepat; seperti sebuah rol film; berderak-derak, berpusing-pusing laju. Begitu banyak dosa yang harus ia lihat di dalam kelepak sayap itu. Kilas-kilas waktu di dalam sayap itu begitu detail merekamnya. Beberapa kali ia pun ingin lari meninggalkan makhluk bersayap itu. Tetapi ia tak mampu. Angin kencang menahan tubuhnya

Kilas-kilas cahaya mulai beradu begitu lesat. Sayap-sayap malaikat itu kembali memutar bayang-bayang dosanya. Sekelebat potret waktu kembali mengerjap; menampilkan dirinya yang sedang khidmat di antara kesedihan yang menguap. Di dalam bayang-bayang itu ia melihat: segerombolan orang yang mati kelaparan, anak-anak yang mencari orangtuanya, dan rumah-rumah kumuh dengan sejuta kemalangan yang menaungi.

Pria itu kembali meronta. Tak kuasa menyaksikan seluruh tingkahnya di masa lalu. Ia berusaha lari meninggalkan tepat tersebut. Akan tetapi tiba-tiba sepasang kaki dan tangannya seperti memiliki kehendak sendiri. Sepasang kaki dan tangan itu lepas dari tubuhnya; pergi meninggalkannya. Ia menyaksikan hal itu dengan kebingungan; menjerit-jerit memanggil untuk kembali.

"Kembali kalian, tangan dan kaki! Jangan tinggalkan aku!"

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved