Cerpen Edi Warsidi

Tanpa Kata, Tanpa Suara

RERANTING, dedaunan, dan buah kopi mulai layu. Ratih duduk mencangkung di atas balok kayu bekas rumahnya yang tersisa.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Tanpa Kata, Tanpa Suara 

Ratih sudah mau mandi, masak, dan cuci. Sudah melakukan kegiatan hari-hari seperti semula. Semua ia kerjakan tanpa kata, tanpa suara. Jumanta juga akhirnya melakukan hal yang sama seperti Ratih, istrinya: tanpa kata, tanpa suara! Tiap hari lelaki itu mengumpulkan damar dan menjualnya ke pasar terdekat di luar hutan. Di pasar pun, ia tidak banyak bicara. Dari pasar ia membeli kebutuhan hidup.

Tanaman reboisasi sudah tumbuh. Rimbun daunnya meneduhi mereka. Tidak jauh dari rimbun daun itu mereka mendirikan gubuk kecil. Polisi hutan tidak memedulikan lagi kedua makhluk itu. Pasangan ini laksana tumbuhan dan satwa penghuni hutan itu. Mereka menjadi habitat hutan yang perlu dilestarikan.

Alam membisu. Jumanta dan Ratih juga membisu. Kedua insan ini tidak lagi merasa punya hak untuk berkata, untuk bersuara. Bagai semua yang hidup dan tumbuh di hutan itu tanpa kata, tanpa suara.

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved