Pendidikan

Bibi Bupati Purwakarta Menangis, Tapi Dedi Tetap Lengserkan dari Jabatan Kepala Sekolah

Bibi saya ngeluh, nangis, kenapa saya yang diasuhnya sejak kecil diturunkan jabatannya jadi guru lagi. Saya jawab siapa yang bodoh

Bibi Bupati Purwakarta Menangis, Tapi Dedi Tetap Lengserkan dari Jabatan Kepala Sekolah
TRIBUN JABAR/MEGA NUGRAHA
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menunjukan wadah perelek dari bambu di Rumah Dinas, Senin (1/2/2016). 

PURWAKARTA,TRIBUNJABAR.CO.ID - Bibi Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengeluhkan tidak lolosanya audit kepala sekolah dan kini jabatannya turun menjadi guru biasa. Meski masih kerabat dan mengasuh Dedi sewaktu kecil, Dedi tidak terbawa perasaan dan tetap bertindak adil, tidak menjadikan bibinya kembali menjabat kepala sekolah.

Diceritakan Dedi,  adik dari orang tuanya menjabat kepala sekolah di Kecamatan Pasawahan di Purwakarta.

Namun rupanya, pekan ini tantenya itu gagal lolos seleksi dalam audit internal Pemkab Purwakarta, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 28 Tahun 2010 Tentang Penugasan Guru Sebagai Kepala Sekolah dan Perda Nomor 2 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan di Purwakarta.

Akhirnya, tante yang diakui Dedi sempat mengasuh Dedi sejak kecil itu diturunkan dari semula kepala sekolah kini jadi guru biasa.Di hadapan peserta Musrenbang Purwakarta yang digelar di Bale Citra Resmi Purwakarta, Kamis (3/3) Dedi mengisahkan tantenya itu mengeluh.

"Bibi saya ngeluh, nangis, kenapa saya yang diasuhnya sejak kecil diturunkan jabatannya jadi guru lagi. Saya jawab siapa yang bodoh," ujar Dedi seraya disambut tawa para peserta Musrenbang.

Tidak hanya sampai di  situ, pengakuannya, tantenya itu sempat nangis-nangis meratapi jabatannya yang turun drastis. "Dia bilang kenapa saya yang bupati ini, yang keponakannya dia malah harus diturunkan dari jabatannya. Ya saya bilang kenapa juga tidak lolos audit," ujar Dedi yang pidatonya itu tertawai banyak orang.

Kebijakan audit internal kepala sekolah itu dilatar belakangi karena kepemimpinan kepala sekolah yang buruk dan sarana prasarana serta tata lingkungan yang buruk. Selain itu, penilaian dilakukan karena para kepala sekolah itu tidak menjalankan pendidikan berkarakter.

"Jumlah yang diberhentikan jadi kepala sekolah dan jadi guru sebanyak 63 orang kepala SD. Termasuk bibi saya. Semuanya jadi guru lagi," ujarnya.

Audit itu sendiri dilakukan di 427 SD di Purwakarta. Pihaknya baru mengaudit 153 SD sejak Januari. "Dari jumlah itu, 94 sekolah kepala SD nya tetap bertahan karena memenuhi kualitifikasi. 63 kepala SD lainnya diberhentikan jadi kepala SD," kata dia.

Audit itu sendiri akan dilakukan di jenjang pendidikan SMP dan SMA di Purwakarta. (men)

Penulis: Mega Nugraha
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved