Breaking News:

Cerpen Adi Zamzam

Hari Ketika Menjadi Kupu-kupu

SOSOK itu menoleh kanan-kiri sebelum meraih pintu. Dadanya berdebar keras begitu rantang telah ia letakkan di sudut ruang temaram itu.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Hari Ketika Menjadi Kupu kupu 

"Cempaka, jeruk nipis, muraya, sirih hutan, rumput babi, ketepeng, beringin, pagoda, jarong, soka, kamboja, kembang merak, kembang sepatu. Lihat, mereka datang lagi! Mereka ingin menjemput kita! Jadilah kupu-kupu bersamaku, La. Tanamlah kembang sepatu di depan kamarmu. Mereka bilang sebentar lagi aku bisa terbang dari sini."

Mala menatap angkasa, mencari adakah rombongan kupu-kupu di sana. Menghindar agar kaca-kaca di kedua mata tak meleleh.

**

"KAMU hamil?! Siapa yang...," Mala menelan lagi kalimat yang hampir keluar. "Kau sengaja, kan? Jadi, kemarin kamu berhasil menghindari si Gembrot Duna?" setiap dua minggu sekali Mami Duna akan memeriksa kesehatan. "Bagaimana caramu menyembunyikannya?"

"Besok aku akan menjadi kupu-kupu raja dan pulang kembali ke Gunung Betung. Aku ingin ada yang meneruskan sejarahku di sana. Dulu, sewaktu Ayah masih hidup, beliau sangat ingin sekali menimang cucu...."

Cerita itu mengalir tanpa peduli Mala hirau akannya. Tentang masa kecil Widayati yang penuh kupu-kupu. Namun berjalan tahun kupu-kupu semakin menghilang dari desanya. Itu karena semakin bertambahnya pohon sawit yang menggantikan aneka pohon rumah kupu-kupu. Mereka tak segan menggunakan cara kotor untuk mendapatkan lahan yang akan dijadikan kebun sawit. Ayah Widayati adalah salah satu korban mata gelap mereka. Lelaki itu mengembuskan napas terakhir dalam bui karena mempertahankan tanah warisan leluhur. Desa dihantui bayang kesuraman. Orang-orang dipaksa menyesuaikan diri dengan keadaan. Kupu-kupu pun tak lagi datang ke desa itu. Mereka pergi entah ke mana.

Terenyuh Mala mendengar cerita itu. Meski sama-sama dikhianati lelaki, masa lalu Mala tak sesuram itu.

"Sampai kapan kau akan mempertahankannya, Wid?"

"Sampai kapan? Bukankah berkali kubilang bahwa aku akan menjadi kupu-kupu dan kembali ke Gunung Betung?" menatap Mala dengan senyum. "Aku akan dijemput, La. Hanya tinggal menunggu waktu."

**

SETIAP hari Mala menengok kamar paling belakang itu. Memastikan Widayati baik-baik saja meski dalam hukuman. Sapar akhirnya mengadu ke Bos Randu, germo yang memiliki tempat ini. Ternyata lelaki inilah yang selama ini melindungi kehamilan Widayati, selalu membawanya keluar saat ada pemeriksaan kesehatan. Pemilik perkebunan kelapa sawit itu berkali menyakinkan Widayati bahwa ia rela membesarkan janin itu karena yakin itu adalah hasil perbuatannya. Tersebab berkali ditolak, kekecewaan akhirnya menghapus rasa cinta.

"Kupu-kupu aneh, sudah kubuang, tapi masih saja datang."

Mala melihat Darko menggerutu sendirian setelah keluar dari kamar Widayati. Ia menghadangnya di tikungan sepi.

"Bagaimana keadaannya? Kapan aku bisa menggantikanmu lagi?"

"Wah, Bos Randu masih gencar memaksa Mbak Wid untuk menerima Pak Sapar. Bos Randu sudah telanjur kepincut dengan sepuluh juta yang dijanjikan Pak Sapar. Konon, Bos Randu malah sudah terima separuhnya dan sudah digunakan untuk beli segala material keperluan memperlebar kompleks."

"Apa ada kemungkinan Widayati dibebaskan?"

"Biasanya, kalau yang sudah kena sanksi berat seperti Mbak Wid itu, ujung-ujungnya ya...."

Mala menggigit bibir. "Apa itu di tanganmu?" Mala tak sengaja melihat sayap yang bergerak-gerak di sela genggaman jemari Darko.

"Kupu-kupu aneh. Padahal kemarin aku sudah membuangnya. Entah masuk lewat lubang mana, padahal pintu dan jendelanya selalu terkunci. Lihat, di sayapnya ada wajah setannya."

Mala terkejut. Itu adalah kupu-kupu yang sering mampir di bunga cempaka Widayati.

"Seperti kupu-kupu setan, ya, Mbak?"

**

"MBAK Mala, ayo cepat ikut aku!" bisikan itu nyelonong melalui jendela kamar Mala. "Mumpung Bos Randu belum datang!"

Kumala mengikuti langkah Darko yang terburu. Perasaannya tak enak. Rambut masai dibetulkan sekenanya saja.

Pintu kamar itu sudah dibuka Darko saat mengirim makanan. "Padahal tadi sore cuma seperti bulu-bulu halus. Bulu-bulu itu tumbuh dari luka-luka di sekujur kulitnya. Tapi lihatlah kini. Tubuhnya telah terbungkus rapat. Keras. Seperti... kepompong?"

Perasaan Mala tak karuan. Ucapan-ucapan Widayati berlintasan. "Dengarlah! Apa kau tak mendengar suara mereka yang memanggil-manggil itu?" Mala mengetuk-ngetuk kepompong itu. Keras bak batu. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Jangan tinggalkan aku seperti ini, Wid. Ayo bangun, cepat bangun!"

Darko buru-buru keluar meninggalkan Mala yang histeris.

Tak lama kemudian Darko kembali bersama seorang lelaki lain. "Ada apa ini?!" bentaknya keras.

"Pasti kau yang telah membuatnya seperti ini!" menuding ke arah Randu. Wajahnya simbah air mata.

Tamparan keras mendarat di pipi Mala hingga ia terempas jatuh. Randu pun kemudian beralih menuju kepompong warna hitam pekat itu. Memukul, menendang, memukul, menendang lagi, menusuk-nusuk dengan pisau, hingga napasnya satu-satu menahan emosi. Saat laki-laki bermata belo itu mundur karena kehabisan akal, keajaiban terjadi....

Tubuh kepompong itu retak. Sepasang sayap warna gelap menyeruak keluar. Bergetar. Terbelah. Sesosok warna merah mengangkasa. Mengibaskan bau cempaka dalam kamar itu.

"Jangan tinggalkan aku, Wid...!" Mala histeris.

***

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved