Cerpen Adi Zamzam

Hari Ketika Menjadi Kupu-kupu

SOSOK itu menoleh kanan-kiri sebelum meraih pintu. Dadanya berdebar keras begitu rantang telah ia letakkan di sudut ruang temaram itu.

Hari Ketika Menjadi Kupu-kupu
Ilustrasi Cerpen Hari Ketika Menjadi Kupu kupu 

**

"LIHAT, ada yang singgah! Dia pasti utusan yang dikirim untuk mengabariku!" Widayati menunjuk ke bunga cempaka yang tingginya kini telah melebihi dua perempuan itu.

"Kupu-kupu itu maksudmu? Aduh, jangan mulai lagi, deh, Wid!" setiap percakapan menyerempet ke bunga cempaka, pasti omongan Widayati selalu ngelantur. Telah dua tahun lebih Widayati seperti itu. Gejalanya dimulai ketika ia menanam bunga cempaka itu. Seperti orang depresi. Para lelaki yang menyambanginya pun sering mengeluh ke Mala bahwa Widayati tak lagi memuaskan seperti dulu.

"Kalau punya masalah, jangan dipendam sendiri, dong, Wid. Kita ini senasib, sudah seperti saudara kandung. Tak perlu main rahasia."

"Setiap kali cempaka bermekaran, mereka pasti akan mampir memanggil teman-temannya untuk berkumpul. Mereka akan bertemu jodoh, bertelur, dan lahirlah para kupu-kupu baru yang akan meneruskan sejarah mereka," mendekat ke arah seekor kupu-kupu raksasa yang menempel di kuntum cempaka. "Dengarlah! Apa kau tak mendengar suara mereka yang memanggil-manggil itu?"

Baru kali ini Mala melihat kupu-kupu seaneh itu. Ukurannya tak lazim, berperut merah dan bersayap hitam. "Apakah di desamu banyak sekali kupu-kupu seperti ini?" akhirnya Mala mengalah, menyelami pikiran sahabatnya. Awal mula terperangkap, Widayati pernah cerita bahwa ia berasal dari sebuah desa sunyi di kaki Gunung Betung di Provinsi Lampung. Di sana terdapat tempat khusus penangkaran kupu-kupu di mana setiap tahunnya serombongan kupu-kupu juga akan lewat di sana.

Ia tertipu Cepol, lelaki hidung belang yang kemudian menjualnya ke tempat terkutuk ini. Bahkan kadangkala Si Cepol masih datang untuk memeras.

Mengangguk. "Warna mereka tergantung di pohon apa mereka mengurung diri. Lihat, datang lagi seekor!" tiba-tiba muncul lagi seekor kupu-kupu sejenis. Mala tersihir pemandangan itu.

"Ia masih terus memanggil-manggil, La. Apa kau tak dengar?"

"Tanaman apa saja yang mereka suka, Wid?" Mala mendekat ke dua kupu-kupu itu. Di sayap mereka ada wajah aneh. Tapi ia tak dengar suara apa pun.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved