Wisata Jabar
Indahnya Ber-Selfie di Danau Berwarna Biru dengan Air yang Jernih
Situ berwarna biru, airnya terlihat jernih, hingga bebatuan dan dasar situ pun bisa terlihat.
Penulis: Deddi Rustandi | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Deddi Rustandi
JIKA bicara soal danau atau situ yang airnya berwarna di Indonesia pasti akan langsung ingat dengan danau tiga warna di Gunung Kelimutu, Pulau Flores, Provinsi NTT. Di sini airnya bisa terlihat merah, biru, dan terkadang putih.
Namun ternyata, di Jawa Barat tepatnya di Kampung Curug, Desa Hariang, Kecamatan Buahdua, Sumedang, ada sumber mata air yang terlihat berwarna biru.
Airnya terlihat jernih, hingga bebatuan dan dasar situ pun bisa terlihat.
Mata air yang kerap disebut Situ Cilembang itu kini tak sepi lagi. Terlebih setelah ada yang mengunggah fotonya ke media sosial.
Kawasan hutan di lembah bukit batu ini setiap hari ramai dikunjungi warga yang ingin melihat jernihnya air di Situ Cilembang.
"Sebelumnya hanya sumber mata air biasa saja, airnya berwarna biru karena saking jernihnya. Dasarnya saja terlihat. Biasanya yang datang ke sini hanya yang mau berobat mengambil air serta warga yang membetulkan saluran air bersih yang mampet saja," kata Unang Suparman (43), warga setempat, Sabtu (9/1).
Namun sejak sebulan lalu, ketika ada warga yang datang dan mengunggah ke media sosial banyak warga yang berdatangan untuk melihat sumber air jernih yang dasar situnya terlihat jelas ini.
"Sebelumnya di bebatuan ini banyak tanaman merambat dan sangat hijau tapi setelah banyak yang datang tanaman rambat ini banyak yang mati dan dibersihkan karang taruna," katanya.
Pengunjung yang datang tidak boleh turun dan berenang di air. Larangan tak boleh berenang dipasang di beberapa sudut.

TRIBUN JABAR/DEDDI RUSTANDI
Pengunjung harus meniti bebatuan besar yang menimbun situ dan di sana hampir semua yang datang selfie dan berfoto bersama.
Hampir setiap hari warga dari berbagai daerah datang dengan memakai kendaran motor, sepeda dan mobil.
"Karena banyak yang menanyakan situ Cilembang, dibuat pelang penunjuk arah di pertigaan jalan Hariang Buahdua-Surian," katanya.
Menuju mata air Situ Cilembang juga diberi tanda dan warga membuat tempat parkir.
"Kendaraan tak bisa masuk ke lokasi situ Cilembang karena jalanya curam dan kalau hujan licin," katanya.
Belum ada karcis tanda masuk hanya sebuah dus saja dipasang dan bertusliskan sumbangan untuk pemeliharaan.
"Bayarnya seikhlasanya saja begitu juga dengan parkir," katanya.
Warga yang datang harus jalan kaki sejauh 200 meter menuruni jalan yang curam dan sudah diplester beton dari jalan aspal.
Warung dadakan yang dibuka warga bertebaran dan menjajakan makanan.
Sejak Dulu untuk Kebutuhan Air Bersih
"Sejak dulu sumber mata air ini ada. Dari cerita kakek saya, Ki Rasta yang meninggal tahun 2003 lalu saat usianya lebih dari 100 tahun menyebutkan dari dulu sudah ada dan dipakai keperluan air bersih serta untuk air ke sawah," kata Unang.
Menurutnya, selain dipakai air bersih dan pengairan sawah, air Cilembang juga banyak yang mengambil dan dipakai untuk obat.
"Biasanya yang datang dari Indramayu itu membawa air memakai botol minuman kemasan dan katanya untuk obat awet muda," katanya sambil tersenyum.
Unang menyebutkan, Situ Cilembang sebelumnya lebih luas dari sekarang.
"Hanya saja tahun 1982, bukit batu longsor dan menimbun kawasan sumber mata air sehingga saat ini ukuran berdiameter 25 meter," katanya.
Air berasal dari selokan di atas bukit kemudian masuk ke sela-sela batu dan menyaringnya sehingga air di Cilembnag itu tetap jernih. Suara gemuruh air yang masuk ke sela bukit batu terdengar sangat jelas.

TRIBUN JABAR/DEDDI RUSTANDI
"Saat musim kemarau, sumber mata air ini tak pernah surut. Bahkan saat musim hujan juga debit airnya tetap saja seperti sekarang dan air tetap jernih," katanya.
Warga yang datang kebanyakan penasaran setelah melihat foto yang bertebaran di media sosial.
"Saya penasaran saja ingin melihat Situ Cilembang yang airnya biru," kata Resti Lestari (20) asal Sumedang.
Lokasi Situ Cilembang ini berada di Desa Harian, Kecamatan Buahdua yang bisa ditempuh dalam waktu satu jam dari pusat Sumedang kota. (*)
Naskah ini juga bisa dibaca Tribun Jabar edisi cetak, Minggu (10/1/2016). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/situ-cilembang-sumedang-1_20160111_004948.jpg)