Cerpen Asmadji As Muchtar

Cerpen Kiai

BANYAK orang datang di rumah Kiai dengan berbagai keperluan. Ada yang minta disembuhkan penyakitnya. Ada yang minta berkah doa agar usahanya sukses.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Kiai 

Kiai kemudian pergi ke rumah sahabat-sahabatnya yang selama ini juga suka berbisnis batu mulia di samping menjadi ulama. Mereka juga selalu memakai cincin mirah dalima dan safir biru sebagaimana yang pernah dipakai Kiai selama ini. Kiai mendatangi mereka satu per satu dengan maksud mengajak mereka untuk melepaskan cincin-cincin yang dipakainya yang sudah berubah menjadi berhala bagi banyak orang.

Tapi setiap sahabat yang didatanginya curiga bahwa yang datang bukan Kiai asli melainkan Kiai palsu karena tidak memakai cincin mirah dalima dan safir biru.

Melihat tuan rumah mencurigainya, Kiai berusaha menjelaskan bahwa ia memang sudah membuang kedua cincin yang selama ini dipakainya yang ternyata telah berubah menjadi berhala bagi banyak orang.

"Jangan bicara yang bukan-bukan! Kamu pasti Kiai palsu." Tuan rumah membentak dan kemudian mengusir Kiai.

Setelah gagal mengajak sahabat-sahabatnya untuk membuang cincin yang telah berubah menjadi berhala itu, Kiai mengurung diri di dalam kamarnya. Tapi hanya sebulan Kiai betah berada di kamarnya. Lantas, Kiai keluar meninggalkan rumah dengan pakaian kumal, berbaju koko, dan bersarung serta berpeci tapi tanpa memakai sandal. Kiai kemudian menggelandang sebagaimana gelandangan yang sakit ingatan. Banyak orang yang masih mengenalnya menganggapnya sebagai Kiai palsu, sedangkan Kiai asli entah di mana.

Di pinggir jalan raya, di suatu kota kecil, Kiai yang sudah sangat dekil nampak sedang asyik berbincang dengan sejumlah gelandangan lain, di antaranya ada yang nampak tidak waras karena hanya bungkam saja dan sesekali tertawa ngakak dengan mata menerawang.

"Kita ini manusia yang merdeka. Kita memang gelandangan, tapi merdeka. Kita bebas dari puja-puji sesama. Kita layak lebih bahagia dibanding mereka yang merasa bangga justru ketika dianggap berhala oleh banyak orang!" Kiai bertutur tegas di tengah kerumunan gelandangan. Lantas Kiai tertawa terpingkal-pingkal bersama gelandangan-gelandangan. Kiai tak menyangka bahwa tak jauh dari tempat itu ada sebuah mobil mewah berhenti. Di dalam mobil itu ada seorang sahabatnya, yang terkenal dengan sebutan Habib, yang sedang menangis menyaksikan Kiai sedang tertawa terpingkal-pingkal bersama gelandangan-gelandangan dekil.

Sejak saat itu, Habib suka menangis meratapi diri sendiri yang sering dipuja-puja banyak orang gara-gara selalu memakai cincin mirah dalima dan safir biru. "Mungkinkah aku nanti masuk neraka gara-gara memakai cincin-cincin ini yang sudah dianggap seperti berhala bagi banyak orang?" tanyanya sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya. Namun, beberapa detik memudian pipinya kembali basah oleh air matanya yang terus mengalir.

Setibanya di rumah, Habib langsung mengurung diri di dalam kamar. Kedua cincin yang dipakainya tiba-tiba dilepaskan. Ajaib, kedua cincin itu juga tiba-tiba seperti bara, sangat panas, ketika hendak dilepaskan. Lantas kedua cincin itu dibanting di lantai. Selanjutnya, Habib keluar kamar menemui tamu-tamu yang datang dari berbagai daerah. Mereka terkejut dan curiga bahwa tuan rumah adalah Habib palsu, maka mereka sangat kecewa dan buru-buru pamit pulang tanpa jabatan tangan atau cium tangan sebagaimana biasanya.

Di tempat-tempat lain, banyak orang yang disebut Habib juga telah melepaskan cincin mirah dalima dan safir biru yang biasa dikenakannya, lantas dicurigai sebagai Habib palsu oleh banyak orang yang sering mendatanginya.

Suatu ketika, di banyak tempat, banyak orang menggelandang seperti Kiai dan Habib karena ingin merdeka dari semua puja-puji dan dari semua kemungkinan dijadikan berhala oleh sesama manusia sehingga membuat mereka jadi musyrik.

***

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved