Presiden Obama Menangis

Putra Barden merupakan salah satu korban tewas dalam penembakan brutal di sekolah dasar di Newtown, Connecticut

Editor: Deni Ahmad Fajar

WASHINGTON, TRIBUN - Presiden Amerika Serikat Barack Obama begitu emosional hingga meneteskan air mata saat mengingat anak-anak yang menjadi korban penembakan massal di negara tersebut.

Hal itu terjadi ketika Obama memaparkan regulasi pengetatan kepemilikan senjata api, yang mencakup pemeriksaan menyeluruh, seperti kondisi mental dan catatan kejahatan calon pembeli senjata.

Obama tampil berpidato di Gedung Putih, Selasa (4/1), setelah diperkenalkan oleh Mark Barden. Putra Barden merupakan salah satu korban tewas dalam penembakan brutal di sekolah dasar di Newtown, Connecticut, pada Desember 2012.

Pidato Obama disampaikan dengan perasaan emosional. Nada suara meninggi ketika ia mengatakan bahwa hak konstitusional warga AS untuk memegang senjata harus disesuaikan agar tidak merampas hak untuk beribadah, menikmati kedamaian, dan hidup mereka.

Obama sering mengatakan bahwa pembantaian itu merupakan waktu yang sulit.

"Setiap kali saya berpikir tentang anak-anak tersebut, itu membuat saya marah," kata Obama. Sejenak ia menyeka air yang menetes dari kedua ujung matanya.

"Itu mengubah saya, hari itu. Harapan saya dengan sungguh-sungguh bahwa itu akan mengubah negara. "Kita berada di sini ... untuk mencegah terjadinya penembakan massal," kata Obama.

Para korban penembakan yang selamat dan keluarga mereka berdiri di belakang Obama dan menyambut dengan tepuk tangan setiap kali Obama mempertegas pernyataannya.

Untuk menekan angka kekerasan bersenjata itu, Obama berkomitmen memperketat aturan pemeriksaan tentang latar belakang pembeli senjata api. Ketentuan itu terdiri dari 10 langkah dan diumumkan pada Senin malam oleh Gedung Putih.

Salah satu ketetapan itu mengatur agar kewajiban semua penjual senjata untuk memiliki izin dan melakukan pemeriksaan latar belakang calon pembeli, membatalkan berbagai pengecualian selama ini yang diberlakukan untuk berapa penjualan online dan pameran senjata.

Negara harus memberi informasi mengenai orang yang tidak diperbolehkan membeli senjata karena gangguan mental atau kekerasan dalam rumah tangga

Biro Investigasi Federal (FBI) akan meningkatkan jumlah petugas pemeriksaan latar belakang sebanyak 50 persen dan mempekerjakan lebih dari 230 penguji baru.

Kekerasan dengan senjata api di Amerika tertinggi di antara negara-negara maju. Kejahatan ini menewaskan tak kurang dari 30.000 orang per tahun.

Kongres selama ini enggan meloloskan aturan pengetatan kepemilikan senjata karena menghadapi tekanan yang sangat besar dari para pemilik dan dari asosiasi senjata Amerika (NRA). (kompas.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved