Breaking News:

Cerpen Mugya Syahreza Santosa

Salam Niah

Di sisa hidup Salam tanpa seseorang yang paling dicintai, berarti sepasang mata akan lebih terasa seperti sebuah danau.

Ilustrasi Cerpen Salam Niah 

Salam teringat pertama kali ia dinikahkan, sewaktu berusia dua belas tahun, terpaut dua tahun di atas Niah. Sebuah pernikahan yang lebih mirip pengikat suci. Bagaimana tidak, usia yang masih sangat muda bagi mereka untuk memahami apa itu pernikahan dan apa itu cinta. Tentu Salam tak langsung tinggal dengan Niah, yang pada saat itu, jangankan tahu soal perkara mengurus rumah dan suami, payudaranya saja belum berisi dan tak bisa mengurus selain pekerjaan cuci-mencuci. Salam pada saat itu langsung dititipkan pada sang paman untuk ikut ngabedug di kebun seorang juragan kampungnya. Sedang Niah bekerja sebagai pemetik teh di perkebunan Malabar.

Begitu usia mulai cukup, barulah Salam dan Niah disatukan. Dari semenjak menikah sebenarnya Salam sudah tampak seorang pencinta tangguh. Salam yang mudah rindu, Salam yang setia selalu. Sampai akhirnya dilimpah-berkahi anak-anak sebanyak delapan orang.

Salam sebenarnya seorang penggembala yang baik juga, sebab ia mengenal baik ternak-ternaknya seperti kerbau dan sapi. Hampir sama dengan Niah, pemelihara unggas yang cerdas. Sebelum akhirnya dengan tangan dan tubuh pekerja keras, mereka berdua memiliki tanah yang luas. Dari Salam yang dikenal buruh tani menjadi Haji Salam, dan Niah dipanggil Mak Haji. Tak ada yang meragukan mereka berdua sebagai seorang pekerja dan contoh baik di seantero kampung. Haji Salam sang tuan tanah. Haji Salam yang mempunyai kebun-kebun luas di mana-mana, truk, dan sapi-sapi perah.

LIHAT JUGA: VIDEO: Ungkap Ledakan di Bawah Mobil TV One, Puslabfor Mabes Polri Didatangkan

"Apa kamu percaya cinta juga ikut menua, Niah?" Salam bertanya, di suatu malam, ketika ia ingin saling berjanji agar, suatu ketika, saat di antara mereka harus ada yang pergi duluan agar tak perlu ada sebuah tangis kesedihan.

"Aku itu sudah tua, sudah tak mau mikirin cinta, Salam." Niah masih berusaha keluar dari jeratan asma. "Yang penting, mau siapa dulu di antara kita yang pergi, nanti. Yang ditinggalkan harus merelakan. Berjanjilah, Salam!" tambah Niah masih dengan suara berebut dengan napas sesak.

Salam hanya berhenti sejenak untuk berpikir dan melambungkan pikiran. Hingga benarlah adanya, hari ketika rasa ketakutan yang lama terbayang, dipupuk waktu dan sampai puncaknya meledak dalam dirinya penuh kekosongan.

Salam menatap kebunnya yang kini hanya tinggal beberapa patok di belakang rumah. Seiring waktu, tanah yang luas miliknya berpindah tangan pada anak-menantu. Sapi-sapi perah yang dulu penuh di kandang-kandang dijual untuk pernikahan anak-anaknya.

Tiba-tiba hari datang lebih lambat. Angin yang membawa aroma daun bawang. Dari kebun kentang yang mulai tumbuh, terdengar mesin penyemprot pestisida meraung. Anjing-anjing kampung berkeliaran, saling berkejaran.

Salam tak memiliki lagi alasan untuk pergi ke kebun seperti hari-hari sebelumnya. Salam seperti kehilangan peta. Matanya kini mudah berair dan tanpa sengaja meneteskan kesedihan paling mendalam.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved