Cerpen Absurditas Malka

Sekian Puluh Tahun Kebakaran Hutan dan Lahan

Di dalam gedung itu, di salah satu ruangannya—ruangan berisi Sang Jenderal dan Sang Ajudan yang beloon—riuh oleh percakapan mengenai bakar-bakaran.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi cerpen Sekian Puluh Tahun Kebakaran Hutan dan Lahan 

"Undang-undang, permen, PP, buku panduan lingkungan hidup, dan aturan-aturan hukum lainnya tentang lingkungan hidup, semua itu lalu buat apa?"

"Buat kita, buat proyek-proyek kita biar bernapas panjang, biar dompetmu itu selalu gendut. Paham?"

"Tak paham, Pak. Eh, paham!"

"Jancuk!" Sang Jenderal menggebrak meja.

**

"SAYA tadi tak sengaja mendengarkan percakapan kalian." Tiba-tiba seorang bocah mendekati Pak Warde, Arfie, dan Sadun.

"Percakapan mana yang kaucuri?" tanya Sadun.

"Aku tidak mencuri percakapan. Percakapan kalianlah yang mencuri kesunyian di telingaku." "Sudah, sudah. Siapa kau ini?" Pak Warde menatap si bocah.

"Santiago, itu namaku."

"O Santiago, kau dari mana?" Arfie menelisik si bocah, wajahnya bukan dari Indonesia.

"Aku berasal dari sebuah novel. Abang semua ini pernah membaca ceritaku." Santiago tersenyum.

"Santiago? Aku hanya ingat Santiago yang itu, Sang Alkemis, itu yang pernah kubaca. Apakah itu kau?" Pak Warde garuk-garuk kepala.

"Ya, itu saya."

"Ha-ha-ha-ha." Ketiga lelaki itu terbahak mendengar pengakuan Santiago.

"Abang semua bolehlah tak percaya, tapi aku tahu masalah yang sedang kalian hadapi."

"Masalah apa?" Sadun mendelik.

"Kasus kebakaran hutan dan lahan tidak akan pernah selesai karena undang-undangnya tidak dibuat untuk menyelesaikan itu. Begitu bukan, Pak Warde?" Santiago menatap Pak Warde yang mengangguk. "Karena itu kita harus membuat undang-undang itu agar perusahaan-perusahaan raksasa itu bisa diadili. Agar lingkungan hidup tetap terjaga. Begitu juga, kan, Pak Warde?"

Ketiganya menertawakan lagi Santiago.

"Apa yang kalian tertawakan ini? Bila aku bisa keluar dari dalam buku dan berada di depan hidung kalian, kenapa tidak bisa kita membuat undang-undang itu? Sekarang siapa yang mau ikut denganku?"

"Kita tidak sedang mabuk, kan?" Arfie menepuk-nepuk jidatnya.

Sebagaimana orang-orang kena sihir, ketiganya menuruti semua yang dikatakan Santiago. Mereka mengikutinya ke istana negara. Sampai akhirnya mereka terasadar telah berada di dalam ruangan di dalam istana negara.

"Selesai!" Santiago menyerahkan undang-undang baru yang sudah dibuatnya. Undang-undang lingkungan hidup yang dirancang untuk menyelamatkan lingkungan hidup, bukan menyelamatkan perusahaan raksasa yang menghancurkan lingkungan hidup, bukan pula menyelamatkan jenderal dan pembesar yang bermain di belakang layar asap.

"Nah, ini yang kita cari," pekik Pak Warde sembari berjingkrak.

"Lalu?" Sadun melongo.

"Sekarang kita akan mengesahkan undang-undang ini," ucap Santiago.

"Bagaimana caranya?" Arfie merengut.

"Serahkan semuanya kepadaku. Di dunia ini aku bisa melakukan segalanya. Kalian tunggulah di sini dan beberapa menit lagi tontonlah televisi." Santiago ngeloyor meninggalkan ruangan.

"Kita ini sepertinya sedang mabuk, Bang?" Arfie ambruk di atas sofa.

"Kurasa kita memang mabuk. Coba kau nyalakan televisi itu."

Sadun meraih remote, menyalakan televisi, semua stasiun menayangkan berita yang sama, siaran langsung breaking news peresmian undang-undang baru tentang lingkungan hidup, tentang pencegahan kebakaran hutan dan lahan, tentang sanksi administrasi yang sifatnya preventif.

"Busyet!" Pak Warde melonjak.

**

BELASAN tahun setelah Pak Presiden mengesahkan undang-undang lingkungan hidup yang baru, akhirnya peristiwa kebakaran hutan dan lahan bisa dicegah. Tidak sekadar diurusi setelah terjadi, tidak sekadar denda yang tak imbang, denda sekian miliar tak imbang dengan nilai yang diakibatkan kebakaran itu. Perusahaan-perusahaan maling akhirnya ditutup dan diadili. Begitupun para jenderal dan pembesar negara yang berada di belakang perusahaan itu, semua kena damprat. Lingkungan hutan kini terjaga dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan rakyat. Undang-undang yang hebat, tajam dan buas ke atas, tajam dan adil ke bawah.

"Santiago! Kenapa kau tak pulang-pulang?" tanya Pak Warde belasan tahun kemudian.

"Pulang ke mana?"

"Ke rumah kau, ke dalam novel."

"Ha-ha-ha. Kalian ini mabuk atau bagaimana?" Santiago terpingkal-pingkal.

"Apa yang lucu, bocah? Kenapa kau menertawakan kami?"

"Kalianlah yang harus pulang. Kalianlah yang berada di duniaku."

**

ASAP tebal makin tebal, api yang bersekutu dengan angin begitu rakus melahap daun-daun kering. Sebuah novel yang di dalamnya Santiago dituliskan, terjerembap di semak kering, setelah terjatuh dari ransel seorang pendaki. Sebelas meter dari novel itu, api menari-nari genit. Angin mendorongnya makin mendekat.

"Santiago, kenapa panas sekali di sini?" pekik Pak Warde.

Angin melemparkan api ke halaman pertama novel itu. Tak lama kemudian, api menelannya. Blub!

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved