Breaking News:

Cerpen Langgeng Prima Anggradinata

Raksasa yang Tamak

SYAHDAN, entah pada zaman dahulu atau bukan, yang pasti kisah ini pernah terjadi pada suatu hari.

Editor: Hermawan Aksan
ILustrasi Cerpen 

"Wahai, raksasa! Pergilah kau dari desa kami. Kami akan memberikan sungai-sungai kami untukmu," kata seorang pemuka desa dalam bahasa raksasa.

"Ik want eaten! Ik want eaten!" seru raksasa itu.

Ia hanya ingin makan. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Kini, yang ia inginkan hanyalah manusia. Manusia dan manusia yang banyak. Yang banyak jumlahnya. Dan ia tak mau pergi!

Maka permintaan itu dikabulkan oleh penduduk desa.

Sebagai tindakan dan ikhtiar terakhir, mereka pun memutuskan untuk berkorban. Mereka melihat bahwa perut raksasa itu telah mencapai batasnya. Jika raksasa itu diberi makan lagi, mungkin perutnya akan meledak. Sial sungguh sial, tiada yang bisa dihidangkan lagi untuk si raksasa itu. Maka, mereka pun mengorbankan diri untuk dimakan oleh si raksasa itu. Mereka menjadikan diri mereka sebagai makanan si raksasa itu.

Mereka pun menyiapkan sebuah piring besar. Lantas satu per satu dari mereka rebah di piring itu. Semakin lama, semakin menumpuk. Menumpuk seperti gunung. Seperti sepiring nasi, kira si raksasa itu.

Tanpa pikir panjang raksasa itu pun melahap gunungan manusia. Lahap nian ia menelan ribuan manusia itu. Darah-darah berceceran. Teriakan-teriakan tak ayal memekik nurani sebagian penduduk yang tak ikut berkorban. Mereka tak kuasa menahan sedih dan marah. Orang-orang yang mereka cintai kini ikhlas dilahap oleh si lapar itu. Tapi mereka telah siap dengan senjata-senjata mereka. Ketika raksasa itu kekenyangan dan perutnya merasakan sakit yang maha, gegas mereka langsung melawan raksasa itu. Pastilah ia lengah. Pastilah ia tak berdaya.

Benarlah bahwa raksasa itu kekenyangan. Perutnya makin buncit. Ia telentang tak berdaya. Sulit ia menggagahkan tubuhnya, apalagi melawan. Para penduduk itu pun gegas menikam tubuh si raksasa. Erangannya seolang-olah berkata "ampun!" Perutnya pun meledak dengan dahsyatnya. Tapi memang sudah semestinya begitu, raksasa itu pun mati dengan ribuan tusukan pedang dan perut yang pecah.

Kebahagiaan pun kembali menyertai penduduk desa. Bagi mereka itulah kesempurnaan, terkadang harus sedih untuk mengenal kebahagiaan. Mereka pun membangun kembali apa yang seharusnya ada. Pertama mereka membangun diri mereka; kepercayaan, iman, dan semangat hidup.

Mereka yang tinggal sedikit itu pun membangun diri mereka. Mereka menikah. Melahirkan dan mati. Siklus yang berulang-ulang dengan semestinya.

Mereka pun menanam apa yang seharusnya tumbuh. Hutan kembali rindang. Sawah digelar hijau. Bagi mereka, itulah taraf keseimbangan hidup. Berputar. Berjalan pada siklusnya. Siklus yang juga meniscayakan bahwa suatu hari kelak akan ada lagi raksasa yang tamak.

***

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved