Breaking News:

Cerpen Langgeng Prima Anggradinata

Raksasa yang Tamak

SYAHDAN, entah pada zaman dahulu atau bukan, yang pasti kisah ini pernah terjadi pada suatu hari.

Editor: Hermawan Aksan
ILustrasi Cerpen 

Raksasa itu bertubuh seperti layaknya manusia, berkepala, bertangan, berkaki, berperut, bermata, berhidung. Tubuhnya tambun layaknya raksasa. Tentu saja ia besar karena ia bernama raksasa. Tentu saja ia tamak karena ia bernama raksasa. Dan tentu saja ia jelek karena ia tamak, besar, dan raksasa.

Para penduduk itu tidak mengutuki Tuhan karena mereka tahu Tuhan tidak sedang mengutuk mereka. Raksasa itu hadir karena memang harusnya hadir, karena takdir. Namun, raksasa itu kini memakan tumbuh-tumbuhan, pohon-pohonan. Tamaknya telah mencukur hutan. Hutan di bukit berkubah itu pun lenyap seperti muslihat tukang sihir. Dengan rakusnya ia memakan semua rumput, bunga, semak, dan pohon. Tiadalah yang tersisa selain mimpi buruk.

Sebatang sungai dikuras raksasa itu. Tiba-tiba sungai yang murni itu menjadi tandus. Sungai yang tandus, seperti berhulu di neraka. Ikan-ikan berenang dalam pasir. Berlompatan dan mati.

Setelah hutan dan sungai itu habis. Raksasa itu meminta penduduk desa itu untuk menghidangkan pohon-pohonan. Hasrat raksasanya tumbuh kian besar, kian rakus, kian tamak. Apabila penduduk desa itu tidak mengabulkan permintaannya, ia akan memakan mereka.

Para penduduk desa pun mencari hutan untuk ditebang. Ketika mereka berjalan ke utara, mereka hanya menemukan bongkahan es. Mereka berjalan ke barat lantas hanya menemukan sehampar laut yang hitam. Mereka berjalan ke selatan dan hanya menemukan sepandang padang pasir. Mereka pun berjalan ke timur. Dan mereka menemukan hutan itu. Kemudian mereka menebangnya. Untuk pertama kalinya mereka menebang pohon.

Suara gaib tiba-tiba terdengar menjadi sebuah peringatan. Suara itu berfirman kepada mereka. Dengan takut mereka mendengar, "Kalau yang pendek telah dipanjangkan, yang panjang telah dipendekkan, yang ada menjadi tiada, yang tiada menjadi ada, maka bencana berdiri di muka pintu. Ialah dosa yang menemui hatimu." Mereka hanya tertunduk sedih dan bersujud ampun.

Itulah dosa yang pertama kali mereka buat.

Pohon-pohon tebangan itu pun dibawa ke desa mereka. Kemudian, mereka menghidangkannya kepada raksasa itu. Dengan lahapnya raksasa itu memakan semua pohon. Dalam sekejap pohon-pohon itu pun habis. Nafsu liar telah membimbingnya ke arah kekejaman.

"Ik want eaten!" tegas raksasa itu.

Raksasa itu hanya ingin makan. Petaka tidak dapat dihindarkan lagi. Apa yang mesti penduduk desa lakukan? Hutan di timur telah habis, di utara hanya bongkahan es, di barat hanya selembar laut yang hitam, dan di selatan hanya sepandang padang pasir.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved