Cerpen Guntur Alam

Kue Bulan dan Rencana-rencana Kecil Liu

LIU memandang almanak bergambar naga hijau yang tertempel di dinding dapur. Dia sengaja memindahkan kalender itu dari ruang tengah ke sini.

Editor: Hermawan Aksan

LIU melepas lap di tangannya. Dia memandang jendela. Ada sesuatu yang berubah di luar sana. Tadi matahari masih bersinar terang, lalu mendadak langit jadi gelap dan angin bertiup kencang. Liu berjalan menuju jendela.

Rintik hujan turun besar-besar. Sebelum Liu menyadarinya, gerimis sudah berubah menjadi hujan deras. Tempias hujan mengenai wajahnya. Dia tergesa menutup jendela dan menarik gerendelnya. Hujan turun di luar rencana Liu.

Mata Liu beralih ke jam dinding, hampir pukul lima sore. Seharusnya travel pertama akan segera datang. Liu menjangkau ponselnya, mencari kontak Zixin dan meneleponnya. Namun nomor itu tak aktif.

Mungkin hapenya abis batre.

Liu kembali ke meja dan menutup rantang bertotol hijau-putih yang berisi dimsum isi babi. Dia ingin mengirimi Bibi Nang, adik ibunya, makanan sekaligus memberi kabar Zixin pulang hari ini. Namun sepertinya dia harus menunda itu. Hujan turun dengan deras dan seolah tak akan berhenti sampai malam tiba.

Liu merapikan meja dapur dan hujan belum berhenti ketika dia selesai membereskan semuanya. Saat dia akan beranjak ke jendela, terdengar panggilan Ibu. Liu tergesa ke kamar. Ibu menanyakan apakah Zixin sudah datang. Liu hanya menggeleng. Mata Ibu berubah keruh.

Liu merogoh ponselnya lagi. Tetap saja nomor telepon Zixin tak aktif. Sementara itu, hujan masih turun deras, jarum jam bergerak ke angka enam. Liu tidak tahu apakah terjadi sesuatu yang di luar rencana pada Zixin. Dia benar-benar tak tahu itu.

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved