Breaking News:

Cerpen Guntur Alam

Kue Bulan dan Rencana-rencana Kecil Liu

LIU memandang almanak bergambar naga hijau yang tertempel di dinding dapur. Dia sengaja memindahkan kalender itu dari ruang tengah ke sini.

Editor: Hermawan Aksan

Liu membayangkan saat nanti tiba di rumah, Zixin akan memakan dimsum dengan lahap. Mereka berdua akan menggotong Ibu agar bisa duduk bersama menghadap meja makan, lalu makan bersama. Sembari mengisi perut, Liu dan Ibu akan mendengar cerita Zixin tentang Jakarta dan pekerjaannya.

Itu sebuah rencana kecil dan sederhana, tapi Liu sangat yakin bisa membuat Zixin bahagia, juga ibunya. Liu berharap dengan melihat Zixin yang makan dimsum begitu lahap, kesehatan Ibu akan perlahan kembali pulih seperti sedia kala. Dan begitu melihat kondisi Ibu yang sakit, Liu berharap Zixin akan tinggal lebih lama di kampung.

Membayangkan rencana kecilnya, Liu tersenyum senang.

Liu menjangkau daun teh kering yang ada di dalam stoples. Dia sengaja membeli daun teh kering di pasar. Dulu, saat masih tinggal bersama mereka, Zixin sangat suka berbuka dengan minum teh kurma.

Kata almarhum Ayah, teh kurma minuman khas Tionghoa, khususnya di Provinsi Gansu. Cara membuat teh kurma sangat mudah. Liu ingat sekali, Ayah mengajarinya saat masih berumur sepuluh tahun. Semua itu berawal karena Zixin tak mau membagi teh kurmanya. Untuk meredamkan tangis Liu, Ayah mengajarinya membuat teh kurmanya sendiri.

"Kurmanya harus dibakar dulu, bukan digoreng," ujar Ayah sembari membakar buah kurma di atas bara api.

Ketika kurma itu sudah setengah matang, Ayah mengambil dan meletakkannya ke dalam gelas. Dua lembar daun teh kering Ayah comot dari dalam stoples, lalu tangannya mengambil sebiji lengkeng, membukanya, dan menaruhnya ke dalam gelas juga.

"Tuangkan gula dan air. Terserah Liu. Mau manisnya sedang atau manis sekali."

Liu tersenyum mengingat kenangan manis itu. Tanpa bisa dicegah, mata Liu memerah, basah. Dia segera mendongak. Tak ingin membiarkan air mata jatuh di landai pipinya. Mendadak dadanya sesak. Dia teringat Ayah, dengan semua hal yang pernah mereka lewati bersama.

Terdengar suara panci mendengung. Air mendidih. Liu terperenyak. Lamunannya pecah. Dia segera memutar tombol kompor gas, api biru itu seketika padam. Diangkatnya tutup panci, asap uap menggumpal, meninggalkan panas. Liu membuang wajah, tak ingin rasa panas itu menyambar kulitnya. Dia menyentuh dimsum dalam panci dengan garpu. Sudah matang. Diliriknya jarum jam di tembok dapur. Hampir pukul empat sore. Biasanya mobil travel dari Palembang akan sampai ke kampung pukul lima. Liu masih punya waktu untuk memasak makanan-makanan favorit Zixin.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved