Membanggakan! Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Pendeteksi Pembuluh Vena
Berawal dari banyaknya perawat yang kesulitan menyuntikkan jarum infus di pembuluh darah (vena)
YOGYA, TRIBUNJABAR.CO.ID - Seringkali perawat atau tenaga medis di rumah sakit atau klinik kesulitan dalam menyuntikkan jarum infus di pembuluh darah (vena) di tangan pasien.
Pasalnya, jaringan vena memang sulit untuk ditemukan jika hanya melihat secara kasat mata. Tenaga medis pun harus peka dalam meraba tangan pasien, agar tak salah menusukkan jarum infus sampai berulang-ulang.
Berawal dari keprihatinan hal tersebut, sejumlah mahasiswa Kedokteran UGM bersama Elektronika Instrumentasi UGM mengembangkan alat pendeteksi jalur pembuluh vena yang praktis dan efisien.
Mereka adalah Yasmin Noor Afifah, Putri Istiqomah, Rizki Hidayatun, Ardianto Nugroho, Faisal Fajri dan Intan Nur Abdillah, melalui Program Kreativitas Mahasiswa dapat mencipta alat medis penuh fungsi, yang dinamakan Visiovein.
Yasmin Noor Afifah, salah seorang mahasiswa pengembang Visiovein, menuturkan, Visiovein adalah sistem yang mampu menemukan jalur pembuluh vena pada tubuh pasien, dengan cara memancarkan cahaya inframerah dengan panjang gelombang tertentu.
"Kami memanfaatkan sinyal inframerah untuk mendeteksi jaringan vena di tangan, karena jika hanya melihat saja dengan pandangan mata, akan sulit ditemukan," ujar Yasmin, Jumat (25/9/2015).
Yasmin, menuturkan, tenaga medis seringkali menemukan kasus dimana pembuluh vena sulit sekali ditemukan seperti pada bayi dan lansia.
Beberapa pasien juga memiliki vena yang dalam, dan juga karena kulit hitam vena menjadi tak terlihat. Sama halnya dengan pasien yang memiliki kelainan Diffivult Intravenous access (diva),dan pasien yang gemuk.
"Beberapa contoh kasus pada bayi dan lansia, vena agak susah dicari. Selain itu pada pasien berkulit hitam dan yang memiliki vena yang dalam. Disini inframerah dapat merunut jaringan vena di tangan dengan cepat," ujarnya.
Merujuk kepada riset, akses vaskular seringkali mengalami 2-11 kali kegagalan, sehingga terpaksa jarum ditusukkan berkali-kali ke tubuh pasien.
Hal ini menyebabkan, trauma baik psikologis seperti rasa takit, dan juga trauma medis, pecahnya pembuluh darah.
Yasmin mengatakan dengan alat ini dapat mencegah trauma-trauma yang ditimbulkan pada akses vaskular. Selain itu, dengan jumlah pasien yang banyak, dapat mempersingkat waktu, dan menyimpan tenaga.
"Akses vaskular seringkali mengalami 2-11 kali kegagalan. Pasti sangat nyeri dan tidak nyaman. Trauma psikologis seperti takut, trauma medis pecahnya pembuluh darah, Padahal pasien banyak, Menguras tenaga dan menghabiskan waktu," ujar Yasmin.
Cara kerja Visiovein ini sangat mudah, cukup dengan memaparkan tangan sekitar 15-20 cm di bawah alat, kemudian lampu LED Inframerah menyala, dan kamera akan merekam paparan pembuluh vena yang telah dilacak.
Selanjutnya, data rekaman tersebut akan diolah di software khusus di komputer, dan citra jaringan vena akan tampak di layar. Dengan begitu, petugas medis dapat tepat memastikan jaringan vena di tangan pasien.
"Cukup dengan memaparkan tangan kita di bawah alat, nanti kamera inframerah akan merekam, dan komputer akan memproses citra gambar vena tangan kita," ujar Yasmin.
Tim Visiovein mengembangkan alat ini selama satu bulan, mulai dari perencanaan pada bulan Januari 2015, dan berakhir Agustus 2015. Bahan-bahan yang digunakan dapat mudah ditemukan. Biaya pembuatan tak lebih dari Rp 3 juta.
"Beda dengan buatan luar yang sampai Rp. 40-60 juta, ini sangat mahal. Sangat tidak cocok digunakan di indonesia. Nah dengan alat ini, cukup murah dan bahan-bahannya dapat dicari di Indonesia," tutur Yasmin.
Ardianto Nugroho, mahasiswa Elins UGM, salah seorang pengembang Visiovein, mengatakan tak ada kendala yang dihadapi dalam pembuatan alat karena telah merujuk kepada teknologi yang sudah ada.
Sebetulnya ini memakai teknologi infrared di CCTV, sehingga dapat dikembangkan lagi untuk lingkungan yang gelap," tutur Ardi.
Yasmin menambahkan keunggulan-keunggulan dari alat yang dibuatnya adalah ergonomis, portabel, dan bisa dilepas.
Selain itu, murah dan mudah dikembangkan. Ia berharap, alatnya dapat berguna dan didistribusikan ke seluruh Indonesia.
"Visiovein, murah dan mudah dikembangkan. Harapannya dapat distribusikan di seluruh indonesia," pungkasnya. (JOGJA.TRIBUNNEWS.COM/Rendika Ferri K)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ardianto-penemu-pendeteksi-pembuluh-vena_20150926_172611.jpg)