Membanggakan! Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Pendeteksi Pembuluh Vena
Berawal dari banyaknya perawat yang kesulitan menyuntikkan jarum infus di pembuluh darah (vena)
Tim Visiovein mengembangkan alat ini selama satu bulan, mulai dari perencanaan pada bulan Januari 2015, dan berakhir Agustus 2015. Bahan-bahan yang digunakan dapat mudah ditemukan. Biaya pembuatan tak lebih dari Rp 3 juta.
"Beda dengan buatan luar yang sampai Rp. 40-60 juta, ini sangat mahal. Sangat tidak cocok digunakan di indonesia. Nah dengan alat ini, cukup murah dan bahan-bahannya dapat dicari di Indonesia," tutur Yasmin.
Ardianto Nugroho, mahasiswa Elins UGM, salah seorang pengembang Visiovein, mengatakan tak ada kendala yang dihadapi dalam pembuatan alat karena telah merujuk kepada teknologi yang sudah ada.
Sebetulnya ini memakai teknologi infrared di CCTV, sehingga dapat dikembangkan lagi untuk lingkungan yang gelap," tutur Ardi.
Yasmin menambahkan keunggulan-keunggulan dari alat yang dibuatnya adalah ergonomis, portabel, dan bisa dilepas.
Selain itu, murah dan mudah dikembangkan. Ia berharap, alatnya dapat berguna dan didistribusikan ke seluruh Indonesia.
"Visiovein, murah dan mudah dikembangkan. Harapannya dapat distribusikan di seluruh indonesia," pungkasnya. (JOGJA.TRIBUNNEWS.COM/Rendika Ferri K)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ardianto-penemu-pendeteksi-pembuluh-vena_20150926_172611.jpg)