Cerpen Sandza

Elegi Kaki Lima

KUUSAP wajahku dengan iringan sebaris napas lirih, tanda aku tak setuju atas hasil sidang ini. Sidang yang memakan waktu berjam-jam lamanya.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Elegi Kaki Lima 

KUANGKAT piala adipura dengan lesu. Senyum manis palsu aku coba sunggingkan. Sirene dari mobil aparat terdengar nyaring dan memekakkan telinga. Mungkin ingin melerai kumpulan warga yang akan menyaksikan piala yang begitu dipuja oleh setiap kota. Tapi kenyataannya, tak ada yang perlu diamankan. Sepanjang jalan protokol kota tercinta yang baru beberapa bulan kupimpin ini lengang. Padahal sudah kuumumkan bahwa mereka, para pedagang kaki lima, boleh menempati tempat semula setelah piala adipura diraih kembali. Hanya ada beberapa anak kecil yang memandang aneh pawaiku dan orang-orang pemerintahan.

Tak seperti dulu, kala hari pertama aku menjabat sebagai wali kota. Beberapa jam setelah dilantik, aku diiring ke jalan raya. Hampir semua warga menyambutku dengan sukacita. Mereka melantunkan harapan dan merapalkan doa agar di kota ini ada perubahan ke arah lebih baik di bawah pemerintahanku. Aku masih ingat, senyum gembira mereka membuat semangatku terlecut.

Tapi kini berubah drastis. Padahal belum genap setahun aku menjalankan roda kepemimpinan ini. Hanya karena demi sebuah nama baik dan citra, aku kehilangan kepercayaan rakyatku.

"Stop dulu di sini!" kuberikan perintah kepada ajudanku.

"Mau apa, Pak?" ajudanku menatap nanar dan heran. Mungkin di hatinya timbul waswas kalau aku akan memilih jalan kaki.

"Saya mau salat dulu!"

Beberapa orang satpol PP sigap mengawalku ketika aku beranjak turun dari mobil. Ingin rasanya kukibaskan tangan ini agar mereka tak menyempitkan gerakku. Walau aku orang nomor satu di kota ini, aku ingin juga merasakan kebebasan bergerak seperti orang lain.

Tepat sebelum masuk gang musala yang berada di belakang pertokoan, aku menghentikan langkah. Menatap lamat emperan toko yang biasanya penuh oleh pedagang kaki lima. Mereka, wakilku dan orang-orang yang sekantorku di kursi basah, tak tahu bahwa puluhan tahun silam di tempat ini sepulang sekolah aku selalu membantu bapak jualan roti bakar.

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved