Cerpen T Agus Khaidir

Rahasia Ibu

Rahmat Yanis teringat pada malam ketika dia melihat ibunya menangis tersedu di bahu lelaki yang bukan ayahnya.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Rahasia Ibu 

Ibunya tak menjawab dan Rahmat Yanis curiga, sungguh curiga, bahwa sebenarnya ibunyalah yang tidak siap. Bahkan sampai pada sore berhujan itu, saat matanya berkaca-kaca dan sudut-sudut bibirnya terus bergetar-getar seperti hendak mengucapkan sesuatu. Dan memang, hingga hujan reda dan sisa-sisa titik air yang singgah pada kaca jendela rumah sakit membubung kembali ke langit bersama ibunya, Rahmat Yanis tetap tidak mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.

Tapi benarkah dia masih butuh jawaban?

Tiba-tiba Rahmat Yanis merasa bersalah, sangat bersalah, karena membiarkan ibunya terus-menerus menyangka dirinya tak tahu dan masih membutuhkan jawaban. Padahal sebenarnya dia tahu dan yang lebih dibutuhkannya adalah kepastian. Benarkah ibunya seperti sangkaannya? Benarkah ayahnya seperti sangkaannya? Benarkah lelaki yang tak pernah ia kenal itu seperti sangkaannya? Benarkah antara ibunya, ayahnya, dirinya, dan lelaki itu memiliki keterkaitan seperti dalam sangkaannya?

Ia merasa berdosa. Sangat berdosa.

Tapi waktu tidak bisa diputar ke belakang.

"Mama...! Tante Mira! Tante Lena! Om...! Papa sadar!!!"

Teriakan-teriakan panjang selanjutnya menggempur telinga Rahmat Yanis. Pelan-pelan ia membuka mata. Di sisi ranjang, Nayla, anak semata wayangnya, menangis. Tak lama, istrinya, juga Anamira, Lena Marcela, dan dua iparnya, masuk bersama dokter dan sejumlah perawat. Dokter itu langsung memeriksa Rahmat Yanis. Air mukanya menunjukkan keheranan. Ini luar biasa, gumamnya berkali-kali, lalu berbicara kepada istri Rahmat Yanis, mengatakan bahwa sepanjang kariernya sebagai ahli penyakit dalam, tak pernah ditemukannya kasus seperti ini. Tidak pernah ada yang selamat pascamengalami serangan stroke kedua yang diikuti pembekuan darah pada arteri jantung dan paru.

"Mir...," panggil Rahmat Yanis setelah dokter pergi dan mereka semua tenang.

"Iya, Bang."

"Antarkan Abang ke kuburan Ibu."

"Kuburan Ibu? Untuk apa?"

"Nanti Abang beri tahu."

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved