Breaking News:

Cerpen Gunawan Tri Atmodjo

Foto Keluarga

NAIK bus adalah pilihan terakhirku jika harus berkendara jauh karena aku menderita mabuk darat.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Foto Keluarga 

Kulihat Ayah sangat bahagia melihat foto keluarga itu. Berkali-kali dia memuji kinerja Pak Bandi. Aku melihat foto keluarga itu dari kejauhan. Aku membayangkan pengorbanan kakak-kakakku demi dua foto itu. Tentu banyak hal penting yang mereka tinggalkan demi momen singkat itu, seperti pekerjaan, izin sekolah anak, dan hal-hal lainnya. Kubandingkan dengan diriku sendiri yang masih lajang. Segala yang mereka tinggalkan tentu jauh lebih kompleks. Kutatap Ayah lekat-lekat. Keharuan menyergapku. Aku membaca keinginan besar beliau untuk mengabadikan kebersamaan. Aku menafsirkan harapan Ayah akan kerukunan dan persatuan keluarga. Dari sini kumaknai pengorbanan kakak-kakakku menempuh perjalanan jauh dan menunda semua urusan demi foto keluarga yang sejak lama diinginkan Ayah.

Kukeluarkan ponsel dari saku celana. Diam-diam kupotret Ayah dari arah belakang saat beliau memandangi foto keluarga itu sebelum berpamitan ke Jakarta. Kakak-kakakku justru agak lama menetap di Solo dengan alasan sekalian liburan. Alasan ini melegakanku karena berarti foto bersama ini mereka jalani dengan senang hati.

Jakarta dan keruwetannya kembali memerangkapku. Di kantor, pekerjaan menumpuk dan hanya Lisa yang jadi kabar baik. Ketika aku tengah menyelesaikan deadline editing naskah, ponselku berdering. Telepon dari kakakku di Solo. Dia memintaku kembali pulang karena kondisi Ayah mendadak kritis. Dengan kalut, aku berurusan kembali dengan birokrasi kantor. Izin cuti lagi yang hanya berjarak seminggu dari kepulangan terakhirku. Tapi aku tak peduli, Ayah tentu lebih penting dibanding itu semua. Aku menelepon biro perjalanan, tapi tak ada tiket pesawat untuk hari itu. Hal serupa juga terjadi pada tiket kereta. Aku mendesah, tampaknya aku harus kembali menempuh perjalanan pulang naik bus.

Di terminal aku menunggu dengan gelisah. Kubuka ponsel dan kulihat foto Ayah memandangi foto keluarga yang kuambil dari belakang. Tiba-tiba ponselku berdering oleh panggilan kakakku dari Solo. Dia mengabarkan berita sangat buruk mengenai Ayah.

Ketika percakapan ditutup, kesedihan dalam diriku telah penuh. Aku melihat jam di ponselku. Masih ada cukup waktu. Aku bergegas menuju minimarket terdekat di terminal untuk membeli permen mint kesukaan ayah. Permen mint itu akan menggantikan sosok ayah menemaniku pulang. Sekuat tenaga, aku menahan agar air mataku tidak jatuh.

***

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved