Purwakarta
Bupati Dedi Pidato di PBB dan Masuk Kantor Pemerintahan di AS Pakai Sandal
Lantas, apa makna dibalik semua identitas kostum ke-Sunda-anya itu
Penulis: Mega Nugraha | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha
PURWAKARTA, TRIBUNJABAR.CO.ID - Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi telah kembali ke tanah air setelah lawatannya ke Amerika Serikat selama tiga hari. Orang nomor satu di Purwakarta ini tiba di Purwakarta Jumat (21/8).
Di AS, ia sempat berpidato selama kurang lebih 20 menit dalam forum International Young Leader Assembly (IYLA) yang dihadiri perwakilan pemuda dari 70 negara.
Selama di negara adidaya itu, ia tidak melepaskan pakaian khas Sunda yang selalu dipakaikanya sehari-hari saat memimpin Purwakarta, pakaian pangsi berwarna putih-putih serta ikat di kepala.
Bahkan ketika berpidato di markas Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menyambangi sejumlah kantor pemerintahan AS termasuk KBRI, ia tetap menggunakan pakaiannya itu termasuk menggunakan sandal kulit hitam.
Lantas, apa makna dibalik semua identitas kostum ke-Sunda-anya itu selama berada di AS, termasuk kalimat pembuka dalam pidatonya, Sampurasun?
"Maknanya adalah perlihatkan kepercayaan diri, mari percaya dengan kebudayaan kita yang selama ini justru kurang kita percayai," ujar Dedi di Purwakarta, Sabtu (22/8/2015).
Bisa jadi itu momen pertama kalinya kostum khas Sunda melenggang di AS. Termasuk, salam adat masyarakat Sunda diperdengarkan di forum dunia.
"Ternyata yang formalistis itu cuma di kita saja, saya pernah gunakan kostum seperti ini dilarang masuk kantor pemerintahan di Jakarta. Dan di AS, saya gunakan pakaian ini termasuk sandal saat berpidato diapresiasi dengan baik, tidak aneh karena mereka menghormati setiap identitas budaya dari manapun," ujar Dedi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/dedi-mulyadi-bupati-purwakarta-di-amerika-2_20150822_164441.jpg)