Perdagangan Manusia

Pemalsuan Data Usia Awal Terjadinya Kasus Pedagangan Manusia

Pemalsuan lainnya, TKW yang akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) datang menggunakan visa umroh.

Pemalsuan Data Usia Awal Terjadinya Kasus Pedagangan Manusia
TRIBUN JABAR/DIAN NUGRAHA RAMADAN
Untung Riyadi, Wakil Sekjen Bidang Hubungan Luar Negeri DPP Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia menjadi pembica pada sebuah workshop yang dihadiri oleh puluhan perempuan ex-TKW dan calon TKW, di Cianjur, Rabu t19/8/2015). 

‎CIANJUR, TRIBUNJABAR.CO.ID - Human Trafficking atau perdagangan manusia masih menjadi kasus yang paling dominan dihadapi oleh Tenaga Kerja Wanita (TKW) dari Indonesia.

Pasalnya, ragam kasus ini sangat banyak ditemui. Salah satu hal yang memicu terjadinya perdagangan manusia bisa disebabkan oleh pemalsuan data seperti usia, tingkat pendidikan, dan data lainnya. Pemalsuan-pemalsuan ini biasanya terjadi pada pemberangkatan TKW yang non-prosedural.

"Atau biasanya TKW yang akan bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) datang menggunakan visa umroh. Mereka pergi ke Arab Saudi, karena ada moratorium PRT sudah tidak boleh lagi ke Arab, jadinya lewat umroh," ujar Untung Riyadi, Wakil Sekjen Bidang Hubungan Luar Negeri Dewa Pimpinan Pusat (DPP) Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) di Cianjur, Rabu (19/8/2015).

Untung yang baru saja memberi materi tentang perlindungan TKW kepada puluhan perempuan baik ex-TKW maupun calon TKW menjelaskan, kasus dominan kedua setelah perdagangan manusia adalah force labour atau kerja paksa.
Kerja paksa ini berkaitan erat dengan jalur keberangkatan TKW yang non-prosedural.

"Ya, kadang satu PRT punya dua majikan. Dan mereka disuruh bekerja melebihi batas kemampuannya," ujarnya. (ram)

Penulis: Dian Nugraha Ramdani
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved