Harga Minyak

Harga Minya Dunia Naik setelah Sepekan Merosot Tajam

Harga minyak juga naik setelah data menunjukkan bahwa Tiongkok mengimpor lebih banyak minyak mentah pada Juli.

Harga Minya Dunia Naik setelah Sepekan Merosot Tajam
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

NEW YORK, TRIBUNJABAR.CO.ID - Harga minyak dunia menguat pada Senin (10/8/2015) waktu setempat, mengakhiri penurunan selama tiga sesi berturut-turut. Investor membeli minyak karena menilai harga emas hitam ini sudah mendekati level terendahnya.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September, naik 1,09 dollar AS ditutup pada 44,96 dollar AS per barrel di New York Mercantile Exchange.

Patokan Eropa, minyak mentah Brent untuk pengiriman September melonjak 1,80 dollar AS menjadi 50,41 dollar AS per barrel di perdagangan London.

"Orang-orang pada dasarnya mencari harga yang murah," kata Michael Lynch, analis di Strategic Energy & Economic Research.

"Belum ada banyak berita yang akan menjelaskannya, tapi kami sudah menurun tajam dalam minggu terakhir ini, orang-orang merasa kami dekat dengan posisi terbawah dan sudah waktunya untuk membeli," tambah dia.

Harga minyak AS secara umum berada di jalur menurun sejak awal Juli, jatuh dari sekitar 60 dollar AS per barel menjadi 40-an dollar AS karena produksi tinggi dari AS dan beberapa anggota penting OPEC, serta ketidakpastian prospek permintaan.

Analis Citi Futures Tim Evans mengatakan, minyak menerima dukungan dari kenaikan hampir lima persen dalam indeks komposit Shanghai pada Senin, serta pembicaraan bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) bisa menggelar pertemuan darurat.

"Obrolan OPEC lebih dari sebuah balon percobaan berulang," kata Evans.

"Sampai saat ini ia (OPEC) cenderung hanya untuk mengonfirmasi bahwa negara-negara Teluk Persia termasuk Arab Saudi tidak siap untuk mempertimbangkan perubahan saja," sebut dia.

Harga minyak juga naik setelah data menunjukkan bahwa Tiongkok mengimpor lebih banyak minyak mentah pada Juli.

Tiongkok mengimpor 30,710 juta ton minyak mentah pada Juli, naik 29 persen pada tahun-ke-tahun ke rekor tinggi, menurut data yang dirilis Minggu oleh Administrasi Umum Bea Cukai. Data impor dari Tiongkok, konsumen minyak mentah utama, mendorong pasar minyak mentah.

Harga minyak mentah juga mendapat dukungan penurunan dollar AS terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Senin, setelah melonjak ke tertinggi empat bulan di sesi sebelumnya.

Pelemahan dollar AS membuat minyak mentah yang dihargakan dalam dollar lebih murah dan lebih menarik bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya. (AFP/Kompas.com)

Editor: Kisdiantoro
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved