Cerpen Absurditas Malka

17.000 Pulau Komunis

GAN Muhidin, ia mungkin reinkarnasi Narcissus. Bisa seharian ia mematut-matut diri di depan cermin, menelisik wajah sendiri...

17.000 Pulau Komunis
Ilustrasi 17000 Pulau Komunis 

"Ya Tuhan, degil sekali Pamanku ini," Sadun menggerutu, terpaksa ia menurut, menguntit pamannya, membantunya memperbaiki biduk.

"Paman, tadi aku mendengar kabar. Akan ada sayembara untuk nelayan," ucap Sadun, tangannya erat memegangi papan yang sedang dipaku pamannya.

"Sayembara untuk nelayan?"

"Iya, pemerintah sedang mencari nelayan hebat, nantinya nelayan yang paling hebat akan diberi hadiah."

"Namanya juga sayembara, pasti akan dapat hadiah."

"Pemenangnya akan dibiayai negara untuk berlayar ke Jerman."

"Jerman, di mana itu?"

"Aku tidak tahu di mana Jerman itu, sepertinya sangat jauh. Katanya, di sana selalu diadakan pertemuan rutin bagi semua nelayan hebat dari berbagai penjuru dunia."

"Terus?"

"Terus, cepat-cepatlah perbaiki biduk ini. Aku ingin mengikuti sayembara itu. Aku ingin berlayar ke Jerman. Aku ingin bertemu dengan nelayan-nelayan hebat itu."

"Bruakakaka. Ndasmu!" Paman Doblang terpingkal-pingkal mendengar semangat keponakannya.

"Kenapa Paman menertawakanku?" Sadun kesal.

"Kaupikir kau akan menang? Coba kaulihat biduk itu, coba kaulihat tubuh kuntetmu itu. Kaupikir kau ini nelayan hebat?"

"Ah, Paman, janganlah kau berkecil hati. Apa pun yang Paman katakan, aku tetap saja akan mengikuti sayembara itu."

"Terserah!" jawab paman, dingin.

"Paman tidak mendukungku?" rasa kesal Sadun memuncak.

"Untuk apa mendukungmu? Jika semua nelayan di sini ikut sayembara, aku sudah tahu siapa pemenangnya. Bogel, Caruk, Surandil, Dasman, Sukab. Merekalah nelayan terbaik."

"Ya, ya, ya, aku tahu. Memang merekalah nelayan hebat. Mereka selalu berhasil menangkap ikan banyak, perahu mereka juga bagus, bukan biduk mengenaskan seperti yang kita punya."

"Kaupikir mereka menjadi hebat karena mereka berhasil menangkap ikan banyak? Karena mereka memakai perahu bagus?"

"Mereka memang begitu."

"Bukan begitu, mereka menjadi hebat karena sejarah."

"Aku tidak mengerti," Sadun melongo.

"Tahun sembilan belas enam puluhan, ketika mereka masih seusiamu, mereka sudah kenyang minum air garam."

"Aku juga sudah pernah meminum air lautan, apa bedanya?"

"Mereka tidak hanya nelayan, mereka adalah sejarah."

"Rumit sekali omongan Paman ini, aku semakin tidak mengerti."

"Singkat cerita, pada tahun sembilan belas enam puluhan, ketika tujuh belas ribu Pulau Komunis dikepung bajak laut. Merekalah yang dengan gagah berani berlayar di lautan, mengendap di gunungan gelombang, melewati benteng-benteng batu karang. Mengakali bajak laut yang buas menyerang."

"Bajak laut benar-benar ada? Kukira itu hanya dongeng."

"Sudahlah, terserah kau saja, mau ikut sayembara atau tidak, terserah. Bidukmu kini sudah bagus, bocor-bocornya sudah selesai diperbaiki."

Rembulan melingkar di awang-awang. Cahayanya runtuh menimpa gelombang. "Aku ngantuk. Aku ingin tidur," gumam Sadun meracau, tubuhnya ambruk di dalam biduk. Tak lama berselang terdengar ia mendengkur.

**

BEBERAPA bulan kemudian, tepat pada hari pengumuman pemenang sayembara nelayan hebat yang diselenggarakan oleh pemerintah, "Paman! Paman! Paman!" Sadun terbirit-birit menuju gubuk Paman Doblang.

"Kenapa kau bocah, kenapa kau berteriak-teriak?"

"Mereka, Paman, mereka tidak memenangkan sayembara." Napas Sadun tersengal-sengal, matanya mendelik menahan sesak.

"Mereka siapa?"

"Bogel, Caruk, Surandil, Dasman, Sukab, nelayan-nelayan hebat itu tidak ada yang terpilih."

"Tidak satu pun? Lalu siapa pemenangnya? Kamu?"

"Ayolah, Paman, bila mereka saja tidak menang, bagaimana aku bisa menang?"

"Lalu siapa pemenangnya?"

"Mbok Dori dan Mbok Lasmi, mereka berdua pemenangnya."

"Ciyus? Kata siapa?"

"Demi gelombang lautan dan biduk kita yang mengenaskan, aku tidak berbohong Paman. Tidak."

"Demi udang-udang besar yang selalu kaubawa pulang. Demi uang-uangmu yang selalu kauserahkan kepada Paman. Inilah kabar terbusuk yang pernah Paman dengar."

"Aku tidak mengerti, Paman, mereka bukan nelayan, mereka hanya tengkulak pasar. Setiap hari mereka ada di pasar, bukan di lautan, tidak pula bekerja sebagai nelayan."

"Kabar apa lagi yang kaudengar di pasar?"

"Hanya itu."

"Hanya itu?"

"Ya, hanya itu. Apa lagi yang harus kudengar?"

Lumba-lumba kesepian meloncati gelombang, berkecipak di permukaan. Meliuk-liuk menghindari batuan karang. Mata yang penuh pertanyaan menatapi biduk, sorotnya temaram.

Kabar tentang Mbok Dori dan Mbok Lasmi yang dinobatkan sebagai nelayan terhebat kian hari kian terdengar menjengkelkan. Betapa tidak, mereka bukan nelayan, bukan nelayan terhebat seperti yang ramai diberitakan. Mereka hanya orang-orang pasar yang sesekali berjalan-jalan di sisi lautan. Sesekali saja terciprat muncratan gelombang di tepian. Mereka bahkan belum pernah merasakannya bagaimana segunung gelombang datang menghantam, sampai terlempar ngajedak ke runcingnya batu karang, sampai berdarah, sampai lebam. Sampai kematian hanya berjarak satu jengkal.

**

"KENAPA kau menjadi muram?"

"Aku tidak mengerti, Paman, bagaimana caranya tengkulak pasar itu bisa mengalahkan nelayan-nelayan hebat. Sayembara itu hanya memenangkan dusta."

"Sudahlah, tidak perlu kau heran. Gan Muhidin telah mengatur segalanya."

"Gan Muhidin? Apa urusannya dengan orang tua genit itu?"

"Aha-ha-ha. Genit? Selain genit, kamu harus tahu juga, Gan Muhidin itu orang licik yang ulung. Dia bisa melakukan apa saja untuk apa saja."

"Ya Tuhan, selain genit rupanya tua bangka itu gemar menipu, mengarang kebohongan, dan menghabis-habiskan anggaran negara. Degil!"

Kabar tinggal kabar, muslihat tinggal muslihat. Besok, orang-orang pasar itu akan berlayar ke negeri Jerman, bertemu dengan ribuan nelayan dari penjuru dunia. Tentu, mereka akan bicara tentang pasar, tentang bagaimana mencari uang, tentang bagaimana menipu di keramaian, bukan tentang jaring dan ikan, bukan tentang derasnya adrenalin ketika hidup dan mati hanya terpisah selapis buih di lidah gelombang.

"Hoi! Bajak laut di tujuh samudra, bangkitlah kalian!" jerit Sadun.

"Kenapa kau berteriak begitu?"

"Supaya Gan Muhidin dibajak di tengah lautan."

"Hussss! Mana mungkin, Gan Muhidin itu bajak laut!"

"Hoh?" Sadun terjengkang, nyemplung ke lautan.

Blubuk!

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved