Cerpen Absurditas Malka

17.000 Pulau Komunis

GAN Muhidin, ia mungkin reinkarnasi Narcissus. Bisa seharian ia mematut-matut diri di depan cermin, menelisik wajah sendiri...

17.000 Pulau Komunis
Ilustrasi 17000 Pulau Komunis 

Sadun mengangguk, dibopongnya udang-udang dalam kantong, dibawanya ke pasar ikan. Sepanjang perjalanan menuju pasar, senyum riang tak hentinya menderas, membasahi keringatnya yang berhujan.

**

TEPAT ketika matahari memerah, meleleh di atas batu karang, Sadun sudah pulang.

"Kaujual ke siapa udang-udangmu?"

"Ke siapa lagi, tentu ke Mbok Dori. Aku sedang malas menjualnya ke Mbok Lasmi, jauh."

"Mana uangnya?" Paman menyodorkan tangan, meminta setoran.

"Paman mau minta uangnya? O, tentu tidak. Seharusnya Paman jangan begitu, pergilah ke laut dan tangkaplah udang yang banyak bila ingin memiliki uang sebanyak ini." Sadun mengipas-ngipaskan sejumlah uang kertas ke wajahnya.

"Cepatlah, berikan kepadaku. Kita harus memperbaiki biduk. Aku tidak mau kau mati di tengah lautan karena biduknya tenggelam."

Akhirnya, Sadun menyerah, semua uang itu diserahkan dengan wajah pasrah. Tidak sepeser pun yang ditahan. "Cepatlah perbaiki biduknya, Paman. Aku ingin mencari udang lagi. Aku ingin mendapat uang lebih banyak lagi."

"Kau pikir begitu, ya? Tidak bisa! Bantulah aku memperbaiki biduk jelek itu. Ayo!"

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved