Cerpen Absurditas Malka

17.000 Pulau Komunis

GAN Muhidin, ia mungkin reinkarnasi Narcissus. Bisa seharian ia mematut-matut diri di depan cermin, menelisik wajah sendiri...

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi 17000 Pulau Komunis 

"Kenapa penting? Adakah yang lebih penting dari menghasilkan uang?"

"Tanyakan saja pada Gan Muhidin, aku lelah." Paman Doblang ngeloyor, raut mukanya tampak kusut, direbahkannya sekujur tubuh di bawah pohon kelapa. Jemari kakinya melesak ke dalam pasir.

"Nanti akan kutanyakan, tapi Paman janganlah kau berteduh di sana, nanti kepalamu ketiban kelapa seperti kemarin. Ha-ha-ha," teriak Sadun, dipungkas cekakak yang segar.

"Aku akan mendapatkan uang banyak," gumam Sadun, dihitung dan dipilah-pilahnya udang sesuai ukuran. Bibirnya tak henti tersenyum, riang sangat riang.

"Paman! Aku akan mendapatkan uang banyak bila semua udang ini terjual di pasar."

"Cepatlah kau pergi ke pasar!"

Sadun mengangguk, dibopongnya udang-udang dalam kantong, dibawanya ke pasar ikan. Sepanjang perjalanan menuju pasar, senyum riang tak hentinya menderas, membasahi keringatnya yang berhujan.

**

TEPAT ketika matahari memerah, meleleh di atas batu karang, Sadun sudah pulang.

"Kaujual ke siapa udang-udangmu?"

"Ke siapa lagi, tentu ke Mbok Dori. Aku sedang malas menjualnya ke Mbok Lasmi, jauh."

"Mana uangnya?" Paman menyodorkan tangan, meminta setoran.

"Paman mau minta uangnya? O, tentu tidak. Seharusnya Paman jangan begitu, pergilah ke laut dan tangkaplah udang yang banyak bila ingin memiliki uang sebanyak ini." Sadun mengipas-ngipaskan sejumlah uang kertas ke wajahnya.

"Cepatlah, berikan kepadaku. Kita harus memperbaiki biduk. Aku tidak mau kau mati di tengah lautan karena biduknya tenggelam."

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved