Pemberdayaan Perempuan dan Anak

Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Jabar Meningkat Signifikan

Selama 2014, terdapat 57 kasus kekerasan terhadap anak.

Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Jabar Meningkat Signifikan
TRIBUN JABAR/SITI FATIMAH
Netty Prasetiyani Heryawan saat menyampaikan disertasinya berjudul Government Indonesia dengan Korea Selatan (Studi Kasus Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Korea Selatan) di Gedung Pascasarjana Unpad, Kamis (29/1/2015). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, M Syarif Abdussalam

GARUT, TRIBUNJABAR.CO.ID - Angka kekerasan terhadap anak di Jawa Barat terus mengalami peningkatan dalam jumlah sangat signifikan, berbeda dengan jumlah kasus perdagangan manusia atau trafficking yang terus menurun sejak 2012.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Jawa Barat, Netty Prasetiyani Heryawan, mengatakan pada periode Januari sampai Juli 2015 saja, terdapat 55 kasus kekerasan terhadap anak. Padahal selama 2014, terdapat 57 kasus kekerasan terhadap anak.

Pada 2013, katanya, angka kasus kekerasan terhadap anak pun masih berjumlah 50 kasus, terus naik dari 2012 yang masih berjumlah 38 kasus. Peningkatan jumlah kasus kekerasan terhadap anak ini dinilai sangat memprihatinkan.

"Kita harus mewaspadai peningkatan angka kasus kekerasan terhadap anak ini. Bukan hanya pemerintah yang terus aktif mencegah hal ini, melainkan dari keluarganya juga," kata Netty, Kamis (30/7/2015).


Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Jawa Barat, Netty Prasetiyani Heryawan membeberkan kasus yang menimpa perempuan dan anak di Jabar, di Kantor BKPP di Garut, Kamis (31/7/2015). -- TRIBUN JABAR/M SYARIF ABDUSSALAM

Peningkatan angka kasus kekerasan terhadap anak ini, ujarnya, berbanding terbalik dengan angka perdagangan manusia di Jawa Barat. Pada 2012, terdapat 52 kasus trafficking. Sedangkan pada 2013 dan 2014, jumlahnya terus menurun menjadi 17 kasus dan 16 kasus.

Sedangkan kasus kekerasan dalam rumah tangga pada 2012 mencapai 61 kasus. Angka ini sempat menurun pada 2013 sampai 17 kasus dan kembali naik pada 2014 menjadi 38 kasus. Bukan perkara mudah bagi pemerintah, katanya, untuk mengatasi tiga permasalahan tersebut.

"Di Jabar semua kabupaten kota pernah terjadi kasus trafficking, apalagi yang jadi pemicu terbesar adalah banyaknya warga yang menjadi buruh migran. Dari 55 daerah paling rentan trafficking di Indonesia, 9 di antaranya ada di Jabar," tuturnya.

Indramayu, Cirebon, Majalengka, Kabupaten Bandung, Sukabumi, Cianjur, Karawang, dan Subang, menjadi daerah paling rentan trafficking. Sedangkan Garut, Ciamis, dan Tasikmalaya, menjadi daerah paling rawan kategori klaster kedua.  (*)

Apa penyebab terjadinya tiga masalah, kekerasan dalam rumah tangga, terhadap anak, dan trafficking, ditambah kekerasan seksual, menurut istri Gubernur Jabar Ahmad Heryawan ini? Simak selengkapnya di Tribun Jabar edisi cetak, Jumat (31/7/2015). Ikuti berita-berita menarik lainnya melalui akun twitter: @tribunjabar dan fan page facebook: tribunjabaronline.

//

[VIDEO]: TKW ASAL CILACAP: "WALAU JADI 'BABU' TAPI HARUS TETEP ENJOY KELESSS"---->http://bit.ly/1SO4zWFKetemu maning karo Isma Bocah cilacap, ora ngapak ora kepenak. Siki aku arep nyanyi karo ninine..

Posted by Tribun Jabar Online on Wednesday, July 29, 2015
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved