Cerpen Yadi Karyadipura

Begitu Cepat Ramadan Berlalu

SELEMBAR kalender imsakiah diterima Bu Sutarmi dari tetangganya. Kalender itu dipasang untuk menggantikan kalender imsakiah tahun lalu...

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Begitu Cepat Ramadan Berlalu 

"Apakah kamu betul mencintainya?" Bu Sutarmi menatap Ibrahim, terkejut bukan kepalang. Di depan matanya duduk ABG gemuk dengan mata juling. Rambutnya tampak keras, berwarna jarang, akibat sering dihajar sinar matahari.

"Ya, saya mencintainya!" jawab Ibrahim dengan penuh keyakinan. "Saya sudah bertemu dan berbicara dengan keluarganya. Mereka sudah menentukan tanggal pernikahan."

Bu Sutarmi menghela napas berat. Ibrahim yang kerja serabutan memperkenalkan gadis kumal itu tiga hari setelah Husen membawa calon istrinya ke rumah.

Ibrahim dinikahkan lebih dulu karena usianya yang memasuki 38 tahun. Menyusul Husen yang menikah tiga bulan kemudian. Biaya pernikahan Ibrahim dan Husen dibantu oleh Fahri, adik Saefulloh yang kerja di luar negeri.

Mengingat kejadian itu, Bu Sutarmi berusaha membuang keinginan yang membawa tekanan bagi Saefulloh. Bu Sutarmi tersadar, Saefulloh menanggung beban serupa kakak-kakaknya ketika itu. Keadaan Saefulloh yang sekarang pun sama seperti dilema dua kakaknya: belum memiliki kemapaman secara ekonomi.

Meskipun tampak sendirian, setidaknya Saefulloh pernah memperkenalkan seorang perempuan kepada ibunya, setahun sebelum pernikahan dua kakaknya.

"Hati Aep tertuju padanya, Bu." Saefulloh menunjukan foto dirinya bersama seorang perempuan cantik berhijab di layar ponsel. "Kami bertemu di kampus, beda jurusan. Dia juga sudah bekerja, jadi staf di akuntan publik."

Terenyuh hati Bu Sutarmi mengingat rona kebahagiaan yang terpancar di wajah Saefulloh kala itu. Setelah menderita sakit keras yang nyaris merenggut nyawanya, kehidupan Saefulloh belum lagi membaik. Ia diberhentikan dari pekerjaannya sebagai sekretaris eksekutif yayasan, dan secara otomatis, beasiswa kuliah kelas karyawannya pun dicabut. Gadis berhijab—yang sempat datang ke rumah untuk menjenguk Saefulloh—pergi meninggalkannya. Sejak saat itulah Saefulloh jadi lebih suka mengurung diri di kamar sambil membaca buku, menulis puisi dan prosa.

Semakin memikirkan banyak hal tentang anak-anaknya, Bu Sutarmi jadi merasa semakin sedih. Memiliki delapan anak ternyata tak bisa membuat hari-harinya ceria di masa tua. Kelima anaknya sudah berkeluarga dan pindah ke berbagai alamat yang berbeda. Tinggal Saefulloh dan dua adiknya yang belum menikah. Fahri masih terikat kontrak kerja di luar negeri dan si bungsu Syahrul bekerja di luar kota.

Malam hari membuat suasana sepi semakin membatu. Saefulloh masih berkutat dengan kegemarannya. Sementara suami Bu Sutarmi tidak pulang karena ada jadwal ceramah. Bu Sutarmi perlahan memejamkan mata di ranjangnya yang dingin dan senyap. Bu Sutarmi terbaring sendirian.

**

RAMADAN kembali datang dan jadwal imsakiah pun kembali diganti. Kali ini Saefulloh yang menggantinya. Ia menatap dua kalender secara bergantian, lalu bergumam, "Ramadan telah tiba. Setahun telah berlalu, dan waktu untuk memulai hidup baru pun akan segera tiba."

Saefulloh bergegas masuk ke kamarnya. Semangat menulisnya berlipat setelah mendapat pasangan seorang gadis, anak pemilik sebuah penerbitan indie.

"Saya menginginkan menantu saya seorang penulis," Saefulloh tersenyum mengingat kata-kata calon mertuanya saat itu. Jodoh baginya telah benar-benar terbuka.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved