Krisis Air Bersih
Maraknya Penambangan Batu Diduga Jadi Penyebab Air Bersih Terbatas
Yuni yang merupakan warga asli desa itu mengaku awalnya tempat tinggalnya tidak pernah kesulitan air
Penulis: Mega Nugraha | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha
PURWAKARTA, TRIBUNJABAR.CO.ID - Empat ribu warga di Desa Batu Tumpang mulai kesulitan mengakses air bersih di tempat mereka tinggal. Kekeringan terparah berada di lima kampung yakni Sindang Reret, Cimerta, Cicariu, Pasir Tindang dan Batu Tumpang.
"Kalau disini mah memang setiap tahun suka kesulitan air, cuma mengandalkan curah hujan dan aliran sungai untuk bisa akses air," ujar Yuni Sari, aparat desa setempat melalui ponselnya, Minggu (28/6).
Ia mengatakan kondisi alam dan tanah di desa itu saat ini tidak memungkinkan menampung air dalam jumlah banyak untuk kebutuhan warga.
"Disini mah tidak hujan sebulan saja sudah kekeringan. Warga cuma memanfaatkan sumber air seadanya dari air sungai dan dari genangan air d bekas galian batu, airnya dipake buat cuci pakaian sedangkan untuk masak dan minum dengan cara membeli air seharga Rp 2000 per ember," ujar Yuni.
Belum lama ini, PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) yang berada tidak jauh dari lokasi desa itu sempat membantu mereka membuat sumur bor.
"Tapi bantuannya enggak berhasil karena dengan membor sumurpun airnya tidak keluar," ujar Yuni.
Yuni yang merupakan warga asli desa itu mengaku awalnya tempat tinggalnya tidak pernah kesulitan air. Sungai yang tidak pernah kekeringan dan gunung di desa tersebut yang menurutnya masih mampu menyimpan cadangan air.
"Ini bukan musibah. 20 tahun lalu aktifitas penambangan batu mulai marak disini, sungai enggak pernah kering. Tapi aktitifitas penambangan batu di desa kami semakin marak dan kemungkinan itu jadi penyebab desa kami sering kekurangan air," ujarnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/warga-mengantre-air-yang-dikirim-pdam-purwakarta_20150628_123337.jpg)