Coffee Break

Hari Asteroid

HARI Selasa, 30 Juni lusa, sekelompok orang, mungkin jumlahnya tidak banyak, menyelenggarakan acara yang disebut Hari Asteroid.

Hari Asteroid
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

HARI Selasa, 30 Juni lusa, sekelompok orang, mungkin jumlahnya tidak banyak, menyelenggarakan acara yang disebut Hari Asteroid (Asteroid Day). Dikutip dari laman asteroidday.org, Hari Asteroid adalah sebuah gerakan kesadaran global untuk mengajak warga di seluruh dunia bersama-sama mempelajari asteroid dan apa yang dapat kita lakukan untuk melindungi planet kita, keluarga kita, komunitas, dan generasi mendatang.

Seratus tujuh tahun lalu, 30 Juni 1908, pukul 07.17 pagi, terjadi ledakan besar di sekitar Sungai Tunguska, Siberia Tengah, Rusia. Sebuah bola api raksasa meluncur dari langit sangat cepat. Belum sempat mencapai bumi, pada ketinggian sekitar 8 km terjadi ledakan dahsyat. Pepohonan di bawah titik ledakan terbakar dan sekitar 2.000 km persegi hutan diratakan oleh empasan gelombang kejut. Selama dua hari setelah itu, debu-debu halus masih tersisa di angkasa yang menyebabkan langit malam tampak terang. Dikabarkan pada malam sesudah ledakan orang-orang di London masih bisa membaca koran di luar rumah karena terangnya langit akibat hamburan cahaya di atmosfer atas.

Tanggal kejadian di Tunguska itulah yang dipakai sebagai Hari Asteroid.

Mengapa harus ada Hari Asteroid? Pada Februari 2014, Dr. Brian May, seorang ahli astrofisika yang juga gitaris terkenal grup band Queen, mulai bekerja dengan Grigorij Richters, sutradara film yang sedang dibuatnya, 51 Degrees North, kisah fiksi tentang jatuhnya asteroid di London dan kondisi manusia sebagai akibat kejadian itu. May menjadi penata musik film itu dan mengusulkan kepada Richters supaya memutar dulu filmnya di Starmus, studio milik kurator Dr. Garik Israelian, dan dihadiri para ahli astrofisika dan ilmuwan dari seluruh dunia, termasuk Stephen Hawking, Richard Dawkins, dan Dr. May sendiri.

Di Starmus itulah lahir ide deklarasi mengenai gerakan untuk membangun kesadaran tentang astreoid di seluruh dunia.

Mengapa mereka peduli terhadap asteroid? Asteroid, yang sebelumnya pernah disebut sebagai planet minor atau planetoid, adalah benda berukuran lebih kecil daripada planet, tetapi lebih besar daripada meteoroid, umumnya terdapat di bagian dalam Tata Surya (lebih dalam dari orbit planet Neptunus). Kini diperkirakan asteroid yang berdiameter lebih dari 1 km dalam Tata Surya berjumlah total antara 1,1 hingga 1,9 juta. Sebagian di antaranya memiliki lintasan yang kalau ditarik garis lanjutannya mengarah ke planet bumi. Premis Hari Asteroid pun berbunyi seperti ini: "Terdapat sejuta asteroid di Tata Surya kita yang memiliki potensi jatuh di bumi dan menghancurkan sebuah kota, tapi kita garu menemukan sejumlah 1%-nya."

Begitu besarkah bahaya jatuhnya asteroid? Benda langit yang jatuh di Tunguska diduga hanyalah asteroid kecil atau mungkin komet. Jika yang jatuh asteroid berukuran lebih besar, dampaknya akan lebih fatal. Mungkin sebagian makhluk hidup akan punah, termasuk sebagian besar manusia akan tewas. Kepunahan makhluk hidup akibat asteroid jatuh di bumi pernah terjadi. Sebuah asteroid yang jatuh di Semanjung Yukatan, Meksiko, 65 juta tahun lalu, diduga menyebabkan punahnya dinosaurus.

Pada beberapa tahun terakhir, kerap beredar berita tentang jatuhnya benda langit dan adanya asteroid yang sedang mengancam bumi. Sekadar menyebut contoh, pada 15 Februari 2013, sebuah meteor jatuh dan meledak di wilayah Chelybinsk, Pegunungan Ural, sekitar 1.500 kilometer sebelah timur Moskow. Jatuhnya meteor itu menimbulkan ledakan dan merusak kaca-kaca rumah penduduk dan bangunan serta melukai sejumlah orang. Pada 1 Januari 2014, sebuah asteroid jatuh ke Samudra Atlantik. Sebetulnya asteroid itu sudah diketahui sehari sebelumnya ketika masih berjarak 500.000 km dari bumi. Namun, asteroid itu bergerak cepat (diperkirakan 15 km per detik) memasuki atmosfer bumi, lalu jatuh di wilayah Atlantik.

Pada 12 April 2015, dari data para peneliti NASA dan berbagai badan antariksa dari berbagai negara lain, terdeteksi ada 1.572 asteroid yang berpotensi membahayakan bumi. Angka ini pun dipastikan akan bertambah karena para astronom selalu menemukan asteroid baru di tiap bulan.

Ngomong-ngomong, apakah kita juga harus ikut peduli terhadap asteroid? Kita memiliki banyak urusan di sini yang lebih penting: revisi UU KPK, dana aspirasi anggota hewan (eh, dewan), harga-harga yang terus naik, rupiah yang terpuruk, jalur mudik yang masih amburadul, narkoba, ribut-ribut menjelang pilkada serentak, dan bejibun lagi persoalan.

Tentu tidak harus peduli. Tulisan ini sekadar renungan bahwa manusia hanyalah sebutir debu yang tak berdaya di permukaan bumi, padahal bumi sekadar sebutir debu di Tata Surya, Tata Surya hanya debu di Galaksi Bima Sakti, dan Galaksi Bima Sakti cuma sebutir debu di antara ratusan miliar galaksi di alam semesta.

Itu saja. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved