Coffee Break

Karpet Merah

PERBAIKAN jalur mudik Lebaran lebih lama daripada membangun Tembok Cina. Begitulah kira-kira bunyi rubrik Pojok harian Kompas beberapa waktu lalu.

Karpet Merah
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

PERBAIKAN jalur mudik Lebaran lebih lama daripada membangun Tembok Cina. Begitulah kira-kira bunyi rubrik Pojok harian Kompas beberapa waktu lalu. Perbandingan ini menarik dan merupakan ungkapan keprihatinan yang menunjukkan betapa perbaikan jalan di negeri ini, tidak hanya buat keperluan mudik Lebaran, tak pernah selesai.

Tembok Cina, atau Changcheng (tembok panjang), mulai dibangun pada Zaman Musim Semi dan Gugur (722 SM-481 SM) dan Zaman Negara Perang (453 SM- 221 SM) untuk menahan serangan musuh dan suku-suku dari utara. Pada periode-periode berikutnya, tembok raksasa bertambah panjang, diperbaiki dan dimodifikasi.

Pada 220 SM, di bawah perintah Kaisar Qin Shi Huang, Jenderal Meng Tian mengumpulkan 300 ribu orang untuk menyambungkan tembok-tembok sebelumnya sebagai garis pertahanan. Pembangunan yang memakan waktu 9 tahun itu memerlukan biaya mahal dan mengorbankan rakyat jelata. Pada 127 SM, saat Kaisar Han Wudi berkuasa (140 SM-87 SM), proyek renovasi dan pembangunan bagian- bagian tembok lama dilaksanakan selama 20 tahun menambah panjang tembok secara keseluruhan menjadi 1.000 km. Mulai tahun 39 M, atas perintah Guang Wudi, Jenderal Ma Cheng memulai kembali proyek pembangunan tembok besar. Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), setelah menaklukkan bangsa Mongol, tembok raksasa dari periode sebelumnya dikonstruksikan kembali. Kini Tembok Cina memiliki panjang 8.850 km.

Jadi, dari awal pembangunan hingga selesai, terentang waktu sekitar 2.000 tahun. Dan waktu dua ribu tahun itu, menurut Mang Usil di Pojok Kompas, lebih pendek daripada waktu yang diperlukan untuk perbaikan jalur mudik Lebaran di Indonesia. Tentu lebay kalau dimaknai secara harfiah. Namun secara kiasan, pendapat Mang Usil mengena dan ada benarnya. Sebab, satu hal saja sudah jelas: perbaikan jalur mudik itu tidak pernah selesai dan sebuah pekerjaan yang "tidak pernah selesai" tentu lebih lama daripada seribu atau dua ribu tahun!

Jika Anda bukan pejabat tinggi, yang selalu memperoleh prioritas di jalan raya (jalan diaspal lebih dulu sebelum dilewati dan pasti mendapat pengawalan), melainkan rakyat biasa yang selalu bepergian rutin antarkota melalui jalan darat, Anda tentu tahu dengan pasti bagaimana kondisi infrastruktur jalan raya di negeri ini dan bagaimana melelahkannya berkendaraan di ruas jalan mana pun.

Pada 1980-an, menempuh Bandung-Cirebon atau sebaliknya cukup dua jam. Sekarang, jarak yang sama bisa menghabiskan waktu hingga lima jam. Peningkatan yang luar biasa, bukan? Tentu bukan berarti era Soeharto lebih baik daripada era sekarang. Bagaimanapun, buruknya infrastruktur jalan saat ini merupakan warisan turun-temurun dari zaman sebelumnya. Bedanya, dulu arus kendaraan masih sangat jarang sehingga kendaraan dapat dipacu dengan kecepatan maksimal. Sekarang, hampir sepanjang jalan sekitar 120 km jarak Cirebon-Bandung dipenuhi kendaraan sehingga sulit memacu kendaraan Anda, apalagi jika di depan Anda sedang merayap serombongan truk sarat muatan.

Bagaimana dengan ruas jalan lain? Ini tulisan Kompas beberapa hari lalu: "Memasuki bulan Ramadan, jalur mudik di pantai utara Jawa dan di jalur tengah ternyata belum sepenuhnya siap. Upaya perbaikan jalan masih berlangsung, termasuk untuk menyiapkan jalur alternatif kalau terjadi kemacetan. Jalan rusak pun masih mudah ditemui." Di Tribun Jabar edisi kemarin lebih parah: "Perbaikan jalan di kawasan Nagreg, Kabupaten Bandung, dipastikan tak akan selesai sebelum Lebaran tiba. Hingga Jumat (19/6), perbaikan masih difokuskan pada separuh jalan, yakni arah Garut-Bandung. Adapun arah sebaliknya masih dibiarkan seperti adanya."

Ihwal jalan raya yang cepat rusak, okelah, sudah menjadi rahasia umum mengenai penyebabnya: perbaikan yang seadanya—tentu berkaitan dengan spesifikasi yang tidak sesuai dengan rencana, manipulasi anggaran, dan sebagainya. Pendek kata, jalan rusak itu terjadi karena satu kata: korupsi.

Namun, ada satu lagi kesalahan kita: pola pikir bahwa perbaikan jalan dilakukan demi lancarnya arus mudik. Ini ibarat menggelar karpet merah bagi para pemudik: orang-orang yang hanya setahun sekali pulang kampung. Setelah pergelaran selesai—setelah mereka kembali ke hilir masing-masing—karpet merah itu digulung dan yang tersisa adalah lantai kusam, retak-retak, dan bolong-bolong. Itulah yang terjadi selama sebelas bulan dalam setahun.

Pola pikir inilah yang perlu dirombak. Gelarkanlah karpet merah selama setahun penuh. Perbaiki jalan raya tidak hanya untuk jalur mudik, tapi juga untuk sebelas bulan lainnya.

Maknanya jelas: babat korupsi, demi membangun infrastruktur yang tahan lama. Siapa tahu lebih tahan lama dibanding dengan Tembok Cina. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved