Breaking News:

Cerpen Mashdar Zainal

Di Halaman Masjid

PEREMPUAN tua itu duduk di bawah pohon sawo, di halaman masjid. Ia selalu datang setiap kali tiba wakthu salat zuhur dan asar.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Di Halaman Masjid 

PEREMPUAN tua itu duduk di bawah pohon sawo, di halaman masjid. Ia selalu datang setiap kali tiba wakthu salat zuhur dan asar. Ia datang dengan tapih dan kebaya yang dua-duanya tampak lusuh. Nyaris senada dengan carut keriput yang meratai wajahnya. Ia datang tidak membawa mukena. Dan saya tak pernah melihatnya menginjak lantai serambi, alih-alih masuk ke dalam masjid. Tapi ada satu hal yang menurut saya cukup aneh semenjak perempuan tua itu datang. Sandal jemaah selalu tertata dengan sangat rapi. Sepasang-sepasang dan menghadap gerbang masuk atau membelakangi serambi sehingga jemaah yang keluar dari masjid bisa langsung memakainya tanpa harus memutar badan.

Saya tak tahu persis apakah perempuan tua itu yang menata sandal jemaah karena saya tak melihat orang lain selain dirinya. Begitu azan berkumandang dan jemaah masuk ke masjid, sandal-sandal itu masih berantakan, tapi begitu salat usai, sandal-sandal itu telah tertata sedemikian rapi. Dan perempuan itu, ia sudah duduk-duduk di sebuah bangku beton di bawah pohon sawo, seperti semula. Kadangkala, saya melihatnya memunguti daun-daun dan plastik-plastik yang berceceran dan memasukkannya ke keranjang sampah di depan gerbang.

Saya sempat heran, mengapa ia datang ke masjid hanya untuk menata sandal dan membersihkan daun-daun, dan bukan untuk salat. Bukankah salat itu sebuah kewajiban, sedangkan menata sandal atau membersihkan daun-daun adalah pekerjaan baik yang kalaupun tidak dilakukan juga tidak apa-apa. Dalam hati saya sempat mencibir, apa gunanya ia repot-repot datang ke masjid, menata sandal jemaah, dan membersihkan halaman masjid, kalau ia tak turut sembahyang.

Suatu hari, selepas salat asar, saya mencoba menyapa perempuan tua itu. Melihat saya datang mendekatinya, ia hanya tersenyum kikuk.

"Maaf, Nek, apa Nenek yang selama ini menata sandal jemaah?" nada suara saya ramah.

Perempuan tua itu menatap saya sekilas dan tersenyum, "Iya, Nak, supaya kelihatan rapi." Itu saja balasnya.

Rasanya, saya ingin langsung berceramah di hadapannya dan mengatakan bahwa seharusnya ia turut salat berjemaah. Toh, kalau ia memang tak membawa mukena atau tak mempunyai mukena, di dalam masjid sudah disediakan banyak mukena. Tapi entah mengapa, mulut saya tak bergerak. Dan malah mengucapkan, "Terima kasih, Nek, sudah mau repot-repot menata sandal saya, juga sandal jemaah yang lain."

"Tidak apa-apa, Nak, saya selalu senang merapikan apa-apa yang belum rapi. Dan saya juga merasa senang berada di tempat teduh ini."

Setelah terdiam agak lama dan merasa tak ada lagi bahan pembicaraan, saya pun berpamitan. Dan perempuan itu kulihat masih duduk di bawah pohon sawo sambil mengeluarkan bungkusan dari tas plastik kecil—yang entah apa, dan memakannya.

Rupanya, keberadaan perempuan tua itu telah disadari oleh banyak orang, termasuk ketua takmir, dan beberapa orang lain. Selepas jemaah salat isya, kami sempat berembuk di serambi masjid. Beberapa orang jemaah mengatakan bahwa kehadiran perempuan tua itu cukup mencurigakan.

"Menurut kalian, apa yang diharapkan perempuan tua itu?" ketua takmir mencoba menyelisik pendapat kami semua.

"Saya pernah menyapanya, dan sedikit ngobrol dengannya, dan ia mengatakan bahwa memang ia yang menata sandal-sandal itu, supaya kelihatan rapi katanya, itu saja."

"Apa perempuan tua itu waras?" selidik seseorang.

"Hus, tentu saja ia waras," jawab yang lain.

"Tapi ia datang ke masjid hanya untuk menata sandal."

"Dan membersihkan halaman sesekali," tambahku.

"Sepertinya kita harus mengusir perempuan itu supaya tidak meresahkan jemaah," yang lain mengusulkan pula. "Bukankah bisa saja, ia bermaksud mencuri sandal jemaah atau bahkan membawa lari kotak amal."

"Itu namanya berburuk sangka," ketua takmir mengingatkan.

"Jadi, bagaimana baiknya?"

"Selama ia tidak mengganggu, nyata-nyata mengganggu jemaah, menurutku tidak masalah," ketua takmir bersuara, penuh kebijakan.

"Ia sudah datang ke masjid, bukankah seharusnya ia ikut salat berjemaah?"

"Itu urusan dia dengan Tuhan, bukan urusan kita," tandas ketua takmir.

"Sebenarnya, saya juga merasa kurang nyaman ketika orang-orang melaksakan salat ia malah sibuk merapikan sandal," seorang jamaah mengungkapkan kegelisahannya. "Beberapa hari lalu, waktu saya ajak ke masjid, anak saya sempat bertanya, kenapa nenek-nenek itu tidak ikut salat dan malah merapikan sandal, dan saya tak tahu harus menjawab apa."

Semua terdiam.

"Saya akan coba bicara dengan perempuan itu lagi, besok," kata saya tiba-tiba, seperti ada yang menuntun. Mendadak pula tebersit ide ke dalam kepala saya untuk membawakannya sebuah hadiah. Hadiah yang mungkin dapat menggerakkan hatinya untuk ikut salat bersama kami.

Dan begitulah, esoknya, selepas salat asar, saya menemuinya di tempat biasa, di bawah pohon sawo kesukaannya. Di tangan saya, sebuah mukena baru siap kuhadiahkan untuknya.

"Apa kabar, Nek, sehat?" kata saya begitu sampai di hadapannya.

Seperti sebelumnya, perempuan tua itu menyambut saya dengan hangat. "Syukur, meski sudah tak muda lagi, saya masih bisa merapikan sandal-sandal itu dan sesekali membersihkan halaman ini," balasnya santai.

"Tapi apa yang Nenek harapkan dengan merapikan sandal-sandal itu dan membersihkan halaman ini?" pertanyaan yang tak saya rencanakan itu tiba-tiba muncul.

"Saya tidak mengharapkan apa pun. Saya hanya mengharapkan ketenangan dan kebahagiaan bagi diri saya. Dan melakukan kedua hal tersebut, menata sandal dan membersihkan daun-daun, cukup membuat saya tenang dan bahagia. Itu saja."

Mendengar jawaban yang tak terdua itu, saya terbengong. Hingga saya ingat, apa tujuan saya menemuinya. Tanpa banyak basa-basi lagi, saya langsung menyerahkan hadiah itu kepadanya, "Oh, iya, Nek. Ini ada titipan mukena dari teman-teman. Kami senang sekali Nenek mau merapikan sandal kami, tapi sebenarnya Nenek tak perlu melakukannya. Kami akan mencoba belajar untuk merapikan sandal kami sendiri," suaraku sedikit kikuk saat menyerahkan bungkusan itu.

Perempuan itu tersenyum menatap saya, senyuman yang ragu dan tatapan yang penuh heran. "Oh, mukena? Untuk saya?" sambut perempuan itu masih dengan ragu, sedang bibirnya setengah terbuka, seakan ingin mengatakan sesuatu yang lebih.

"Tak apa, Nek, hanya mukena. Sebagai ungkapan terima kasih kami."

Setelah tampak berpikir beberapa jenak, perempuan tua itu akhirnya bicara juga. "Maaf, Nak, tanpa mengurangi rasa terima kasih saya. Sebenarnya, saya ini nonmuslim, karena itulah saya tidak ikut salat berjemaah."

Begitu mendengarnya, saya langsung membatu. Rasanya ada yang runtuh dari diri saya. Sementara perempuan itu, masih saja tersenyum sambil menjabar mukena yang tampak bercahaya di tangan keriputnya.

***

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved