Breaking News:

Cerpen Mashdar Zainal

Di Halaman Masjid

PEREMPUAN tua itu duduk di bawah pohon sawo, di halaman masjid. Ia selalu datang setiap kali tiba wakthu salat zuhur dan asar.

Ilustrasi Cerpen Di Halaman Masjid 

Mendengar jawaban yang tak terdua itu, saya terbengong. Hingga saya ingat, apa tujuan saya menemuinya. Tanpa banyak basa-basi lagi, saya langsung menyerahkan hadiah itu kepadanya, "Oh, iya, Nek. Ini ada titipan mukena dari teman-teman. Kami senang sekali Nenek mau merapikan sandal kami, tapi sebenarnya Nenek tak perlu melakukannya. Kami akan mencoba belajar untuk merapikan sandal kami sendiri," suaraku sedikit kikuk saat menyerahkan bungkusan itu.

Perempuan itu tersenyum menatap saya, senyuman yang ragu dan tatapan yang penuh heran. "Oh, mukena? Untuk saya?" sambut perempuan itu masih dengan ragu, sedang bibirnya setengah terbuka, seakan ingin mengatakan sesuatu yang lebih.

"Tak apa, Nek, hanya mukena. Sebagai ungkapan terima kasih kami."

Setelah tampak berpikir beberapa jenak, perempuan tua itu akhirnya bicara juga. "Maaf, Nak, tanpa mengurangi rasa terima kasih saya. Sebenarnya, saya ini nonmuslim, karena itulah saya tidak ikut salat berjemaah."

Begitu mendengarnya, saya langsung membatu. Rasanya ada yang runtuh dari diri saya. Sementara perempuan itu, masih saja tersenyum sambil menjabar mukena yang tampak bercahaya di tangan keriputnya.

***

Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved