Coffee Break

Batu Akik Lagi

Entah dengan alasan apa para pejabat pemerintah ramai-ramai mengimbau agar para pegawai negeri sipil di daerahnya mengenakan cincin batu akik.

Batu Akik Lagi
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

INI tulisan kedua saya tentang batu akik. Mengherankan, entah dengan alasan apa para pejabat pemerintah ramai-ramai mengimbau, bahkan membuat peraturan daerah segala, agar para pegawai negeri sipil di daerahnya mengenakan cincin batu akik. Dua hari lalu, Bupati Bandung Barat, H. Abubakar, mengimbau para PNS dan para pejabat di lingkungan Pemkab Bandung Barat untuk mengenakan batu akik golden oncom, yang diklaim akan menjadi primadona baru di dunia gemstone Indonesia.

Padahal, seorang pakar batu akik setempat mengakui "sangat susah menemukan batu golden dari bongkahan oncom besar sekalipun," yang menyiratkan dibutuhkan banyak bongkahan besar bahan baku batu akik jenis ini.

Pada peringatan Konferensi Asia Afrika beberapa waktu lalu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menghadiahkan lebih dari seratus butir batu akik kepada tamu dari mancanegara.

Sebelumnya, pada awal April lalu, Gubernur Sumsel Alex Noerdin menekankan kepada stafnya di semua satuan kerja perangkat daerah agar mengikuti peraturan gubernur yang mewajibkan menggunakan batu akik. "Semua PNS wajib menggunakan batu akik baik itu berupa cincin maupun liontin," ujar Alex, 6 April lalu.

Sebelumnya lagi, pada Februari lalu, Bupati Purbalingga, Jawa Tengah, mewajibkan pula PNS di kabupaten itu memakai batu akik. Bupati bahkan mewajibkan bawahannya tidak hanya memakai, tapi juga memasarkan batu akik setempat.

Ya, ampun....

Sampai sekarang saya tidak memahami apa indahnya batu akik, serta apa saja khasiatnya jika memang ada, dan saya tidak merasa rugi atas ketidakpahaman saya. Sampai saat ini saya belum terkena virus keranjingan batu akik. Saya masih yakin bisnis batu akik tak lebih dari monkey business—selain akibatnya yang merugikan berupa perusakan alam.

Monkey business? Berawal dari kisah perumpamaan tentang jual-beli monyet yang dirancang seorang pengusaha, istilah monkey busniess merujuk pada sebuah permainan yang diawali satu atau beberapa pihak pemodal besar yang mendesain agar suatu komoditas bernilai tertentu. Perlahan tapi pasti, komoditas itu akan mempunyai nilai yang terus bertambah meskipun tidak memiliki manfaat yang jelas serta ilmiah. Kemudian, dengan suatu cara, para pemodal akan memperoleh keuntungan karena telah menyusun skenario. Ketika barang itu mencapai puncak booming, mereka melepas stok yang disiapkan sejak lama. Setelah itu, karena terlalu banyak suplai di pasaran dan permintaan yang tidak sebanding, perlahan harga barang tersebut otomatis turun mengikuti mekanisme pasar mencari harga yang wajar.

Fenomena "bisnis monyet" itu pernah kita alami dengan tanaman aglonema, pohon anturium, dan ikan louhan. Lukisan dan bonsai tampaknya menyiratkan gejala yang sama. Pada zaman kejayaannya, anturium dan ikan louhan memiliki nilai jual yang fantastis. Anturium jemani bahkan ada yang mencapai Rp 2 miliar. Padahal, di luar sana, harga anturium hanya puluhan dolar.

Demam batu akik yang terjadi belakangan ini diduga terjadi karena jebakan monkey business juga. Memang, berbeda dengan tanaman dan ikan, batu akik termasuk sumber daya alam tak terbarukan. Namun, jika tidak berhati-hati, bukan tidak mungkin kita akan terjebak dalam lingkaran setan monkey business ini. Lagi pula, apa, sih, manfaat ekonomis nyata batu akik?

Dan inilah kekhawatiran lain dari demam batu akik: karena merupakan sumber daya alam tak terbarukan, orang pun beramai-ramai mencari bahan mentah berupa bongkahan-bongkahan batu. Tidak hanya mencari batu di permukaan, tapi juga, yang lebih banyak, menambang hingga kedalaman bumi.

Seorang pegiat lingkungan dari Walhi pernah mengingatkan demam batu akik berpotensi merusak kelestarian alam karena sebagian batu alam didapat dengan cara ditambang. "Sebagian batu mungkin ada yang didapat di permukaan. Namun, pasti ada batu yang didapat dengan cara ditambang. Sistem penambangan inilah yang harus diwaspadai," ujarnya.

Terlebih, dari sekian banyak lahan yang digali, hanya sebagian kecil yang dapat dimanfaatkan sebagai perhiasan. Penggalian lahan seluas lima meter persegi, misalnya, mungkin hanya menghasilkan sebongkah batu akik. Penggaliannya luas, hasil yang digali sedikit, sedangkan sisanya dibiarkan begitu saja. Itu jelas sudah merusak bentang alam.

Demam batu akik memang mampu meningkatkan derajat hidup sebagian orang. Namun, sepadankah peningkatan derajat hidup itu dengan kemungkinan perusakan alam yang masif? (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved