Coffee Break

Selip Lidah

INI pengandaian saja. Jika Presiden Jokowi tidak "selip lidah" mengatakan bahwa Soekarno lahir di Blitar, menurut Anda di mana Soekarno lahir?

Selip Lidah
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

INI pengandaian saja. Jika Presiden Jokowi tidak "selip lidah" mengatakan bahwa Soekarno lahir di Blitar, menurut Anda di mana Soekarno lahir? Kalau Anda menjawab Blitar, atau menjawab "tidak tahu", saya yakin Anda tidak sendirian, tapi sependapat dengan banyak orang lain.

Setidaknya buku-buku pelajaran dan buku pengayaan berikut menuliskan Soekarno lahir di Blitar: Pintar SD Kelas 3 (Penerbit Grasindo); IPS Jilid 5 (Penerbit ESIS); PKN Kelas X (Penerbit ESIS); Bahasa Indonesia Kelas XII (Penerbit ESIS); Ayo Belajar (Penerbit Kanisius); Solusi Jitu Menghadapi Ulangan IPS (Penerbit Grasindo); Intisari Pengetahuan Umum Lengkap SLTP (Penerbit Kawan Pustaka); Mengenal Adat, Budaya, dan Kekayaan Alam Indonesia (Penerbit Cikal Aksara); dan Cinta Pahlawan Nasional Indonesia (Penerbit Wahyu Media).

Bahkan buku-buku umum berikut ini juga menuliskan data yang sama: 99 Tokoh Muslim Indonesia (Penerbit Mizan); Buku Pintar Politik (Penerbit Galang Press); dan buku fenomenal Buku Pintar Seri Senior karya Iwan Gayo (Penerbit Grasindo).

Jadi, wajar jika orang-orang yang pernah membaca buku-buku itu memiliki pengetahuan yang sama: Soekarno lahir di Blitar.

Jangankan tingkat para pelajar, bahkan level sejarawan hebat berpikiran sama. Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam pernah mengatakan data autentik soal tempat lahir Soekarno masih harus dikaji. "Seingat saya di Blitar tapi kemudian Bung Karno sekolah lagi di Surabaya, mondok di rumah di HOS Cokroaminoto," kata Asvi kepada VIVAnews.com, Selasa, 31 Mei 2011. Sejarawan UGM Suhartono menyatakan pendapat Soekarno lahir di Surabaya itu masih harus ditelusuri kebenarannya. "Sejauh yang pernah saya baca, di Blitar," kata dia di laman dan tanggal yang sama.

Di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, pada keterangan foto tentang Soekarno, tertulis "Soekarno lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901. Belakangan, tulisan "lahir di Blitar" ditutup dengan plastik bertulisan "lahir di Surabaya".

Dengan data di atas, tentu saja tidak berarti saya membela Jokowi, yang sudah "salah ucap". Saya hanya ingin mengatakan bahwa kekeliruan data tentang penulisan tempat lahir Soekarno sudah diterima anak didik kita sejak masa SD, SMP, dan SMA.

Pada peringatan Hari Lahir Pancasila di Kota Blitar, Jawa Timur, Senin lalu, Jokowi membacakan naskah pidato yang mengungkapkan kekagumannya terhadap sosok Soekarno. "Setiap kali saya berada di Blitar, kota kelahiran proklamator kita, bapak bangsa kita, Bung Karno, hati saya selalu bergetar," kata Jokowi.

Kata-kata Jokowi itu tak berapa lama kemudian mendapat reaksi, terutama di media sosial. Anda dapat menyimak sendiri reaksi-reaksi itu, yang memang dapat disebut sebagai olok-olok. Baik berupa kata-kata maupun gambar (meme), reaksi itu seakan-akan menunjukkan bahwa para pengolok-olok tersebut, menurut kata-kata teman Facebook saya, Iqbal Aji Daryono "sejarawan andal semua" karena "mereka tampak sangat mumpuni, sangat paham sejak lama, bahwa Bung Karno memang lahir di Surabaya!"

Sumber informasi lain memang menyebutkan Soekarno lahir di Surabaya. Sebut saja buku biografi Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia, yang ditulis Cindy Adams. "Bapak dikirim ke Surabaja dan di sanalah putera sang fadjar dilahirkan" (Bab 2). Sejumlah buku lain juga menyebut Soekarno lahir di Surabaya. Misalnya buku Soekarno Bapak Indonesia Merdeka karya Bob Hering, Ayah Bunda Bung Karno karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto (2002), Kamus Politik karya Adinda dan Usman Burhan (1950), Ensiklopedia Indonesia (1955), dan Ensiklopedia Indonesia (1985).

Dari situlah dibuat prasasti yang diletakkan di sebuah rumah di Jalan Lawang Seketeng (sekarang Jalan Pandean IV/40, Surabaya) bertuliskan "Di sini tempat kelahiran Bapak Bangsa Dr. Ir. Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat, Proklamator, Presiden Pertama RI, Pemimpin Besar Revolusi" bertanggal 29 Agustus 2010 dan ditandatangani Bambang Dwi Hartono, Wali Kota Surabaya.

Jokowi memang keliru dan, lepas dari siapa yang salah, Jokowi atau penulis naskah pidatonya, peristiwa "selip lidah" itu dapat menjadi pintu masuk untuk membenahi banyaknya kekeliruan dalam pendidikan kita, tidak hanya teks tapi juga kebijakan. Kesalahan data tentang tempat lahir Soekarno boleh jadi hanya salah satu kesalahan data dalam buku-buku sejarah.

Lebih dari itu, boleh jadi fenomena ini hanya puncak gunung es. Ini tugas berat Menteri Anies Baswedan untuk segera membenahi departemen yang dipimpinnya.

Ngomong-ngomong, andai Jokowi saat itu menyebut Soekarno lahir di Surabaya, reaksinya bakal ramai nggak, ya? Boleh jadi akan ada olok-olok: "Woi, menurut buku ini-itu, Soekarno lahir di Blitar!" Yang penting mem-bully Jokowi. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved