Coffee Break

Hari Tanpa Tembakau

SAYA tidak yakin ada 10 persen saja perokok di Indonesia tahu, ingat, atau peduli bahwa hari ini merupakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

Hari Tanpa Tembakau
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

SAYA tidak yakin ada 10 persen saja perokok di Indonesia tahu, ingat, atau peduli bahwa hari ini merupakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day); bahwa pada peringatan ini biasanya diserukan kepada para perokok agar berpuasa merokok (mengisap tembakau) selama 24 jam serentak di seluruh dunia.

Ketika dalam sebuah obrolan ringan kemarin saya menanyakan kepada dua orang teman yang merokok, mereka menjawab tidak tahu bahwa hari ini hari tanpa tembakau sedunia. Salah seorang kemudian berkata, "Ya, sudah, mumpung belum besok, saya sekarang merokok dulu." Apakah teman saya itu hari ini tidak merokok selama 24 jam, saya juga tidak yakin.

Saya pun tidak yakin apakah peringatan pemerintah pada kemasan rokok memiliki pengaruh signifikan sehingga menjadikan orang tidak merokok. Dulu peringatan itu berbunyi "Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan." Ada yang berpendapat bahwa kalimat ini tidak akan membuat takut para perokok karena "merokok dapat menyebabkan kanker..." tidak berarti "merokok menyebabkan kanker...." Namun peringatan yang lebih baru pun, yang berbunyi "merokok membunuhmu", ditambah dengan gambar tengkorak segala, tak lebih dari angin lalu. Kematian tidak membuat takut para perokok karena merokok atau tidak merokok toh kita bakal mati. Negeri ini tetap menjadi surga bagi pengusaha rokok.

Merokok itu jelas enak. Seorang perokok pernah ditanya oleh temannya yang tidak merokok, "Apa, sih, enaknya merokok?" Dia menjawab, "Sulit menjelaskannya kalau kamu tidak pernah merokok. Terus, apa, sih, enaknya tidak merokok?" Teman yang tidak merokok itu bingung juga sejenak sebelum menjawab agak asal-asalan, "Sulit menjelaskannya kalau kamu masih merokok." Saya tidak pernah menanyakan "apa enaknya merokok". Saya bisa menjelaskan kenapa merokok itu enak dan kenapa tidak merokok juga enak karena saya pernah merokok sejak kelas dua SMA dan berhenti merokok enam tahun kemudian.

Lebih dari itu, merokok adalah lambang kejantanan. Saya pernah dibilang banci karena tidak merokok (lagi). Saya tidak marah, tapi hanya menyahut kata-katanya, "Bukankah para banci malah pada merokok?" Tentu saja tidak berarti bahwa para perokok itu banci. Para perokok adalah orang-orang yang gagah, yang mampu menaklukkan puncak gunung yang tinggi, para pria sejati, orang-orang yang berani mengambil keputusan sulit. Pendeknya, orang-orang sukses. Setidaknya itulah citra yang terbentuk dalam iklan rokok.

Beberapa bulan lalu saya berpendapat ada tiga topik yang selalu menjadi perdebatan seru di antara dua pihak yang berseteru: rokok, poligami, dan Jokowi. Pada saat pilpres, perdebatan tentang Jokowi meruap di mana-mana, antara yang pro dan yang kontra, kadang-kadang ada yang berpendapat tanpa argumentasi yang memadai. Perdebatan tentang poligami juga tak henti-henti menuai kontroversi. Begitu juga perdebatan antara para perokok dan para bukan perokok. Dan kalau sudah fanatik, seseorang kadang menjadi tampak dungu.

Pemerintah, departemen kesehatan, para bukan perokok, atau pihak mana pun bisa melakukan kampanye tentang bahaya merokok. Bahwa merokok dapat menyebabkan kanker, penyakit jantung, diabetes, kebutaan, penyakit mulut, gangguan janin, gangguan pernapasan, kerontokan rambut, merusak indra pengecap, dehidrasi, dan sebagainya. Tapi orang-orang tetap merokok dan industri rokok tak pernah mati—bahkan para pengusaha rokok adalah orang-orang terkaya di negeri ini.

Dalam sebuah acara di televisi, Roy Marten, yang pernah ditahan karena konsumsi narkoba, mengatakan bahwa para pencandu narkoba tahu semua sisi negatif narkoba, tapi mereka sangat sulit menyetop konsumsi narkoba. Saya pikir mungkin begitu juga dengan para perokok: mereka tahu sisi negatif merokok, tapi mereka sulit menghentikan merokok—bahkan mungkin tak ingin berhenti karena yakin banyak sisi positif merokok.

Yang mengherankan, ada sebagian perokok yang merasa selalu dalam posisi teraniaya karena sering di-bully para bukan perokok dan merasa hak mereka untuk merokok makin dibatasi, misalnya oleh peraturan yang melarang mereka merokok di tempat umum. Padahal statistik menunjukkan bahwa lebih dari separuh rakyat negeri ini adalah perokok. Artinya, para perokok adalah "tirani mayoritas". Bahkan, dalam situasi ketika terdapat banyak orang dan satu saja di antara mereka merokok, yang teraniaya mestinya adalah mayoritas yang tidak merokok.

Karena itu, batasan ruang bagi perokok memang perlu ditekankan—malah mungkin perlu dipaksakan. Biarlah para perokok menikmati hak mereka di ruang yang telah tersedia, tapi jangan racuni para bukan perokok yang juga berhak atas udara yang bersih.

Selamat hari tanpa tembakau sedunia, bagi yang merayakannya. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved