Cerpen Maria Magdalena Bhoernomo

Hanacaraka

Sambil memandangi wajah dan postur tubuhnya, Hanacaraka merasa masih layak untuk berkiprah di ranah politik, sebagai gubernur atau bupati.

"Aku masih pantas untuk menjadi pemimpin daerah! Ayo semua partai merapat padaku! Ayo semua wartawan memotretku dan mewawancaraiku!"

Karena sering tak bisa tidur dan kehilangan selera makan, Hanacaraka jatuh sakit. Istrinya terpaksa melarikannya ke rumah sakit karena selama jatuh sakit itu Hanacaraka sering mengigau. Bahkan setelah dibangunkan istrinya, Hanacaraka masih juga meracau bahwa ia masih pantas menjadi pemimpin daerah.

Tim dokter yang merawat Hanacaraka dirundung kebingungan karena semua obat tidak mempan menyembuhkannya. Mereka kemudian mencoba terapi baru hasil diskusi serius yang mereka lakukan.

Terapi baru untuk Hanacaraka betul-betul aneh, bahkan mungkin bisa dianggap sebagai penyimpangan terhadap ilmu kedokteran atau ilmu pengobatan. Betapa tidak? Tim dokter itu sepakat mencoba terapi baru untuk menyembuhkan Hanacaraka agar tidak mengigau dan meracau lagi dengan menggelar acara rapat terbuka di aula rumah sakit dengan memberikan kesempatan kepada Hanacaraka untuk berpidato.

Sejumlah perawat diminta hadir. Di antara mereka diminta membawa kamera sebagaimana layaknya wartawan-wartawan. Semua juga diminta untuk bertepuk tangan di sela-sela pidato Hanacaraka, sedangkan yang memegang kamera disuruh untuk memotretnya.

Hanacaraka tiba-tiba sangat ceria setelah seorang dokter memintanya untuk berpidato di aula rumah sakit.

"Pak Hanacaraka masih pantas untuk memimpin daerah ini. Jadi, sebaiknya berpidatolah sebagaimana ketika menjadi panglima Kodam," ujar dokter itu.

"Ya, aku akan mencoba berpidato seperti ketika menjadi panglima Kodam. Tapi maaf, ya, saya nanti terpaksa berpidato dengan duduk di kursi roda." Hanacaraka begitu bersemangat meskipun tubuhnya sangat lemah dan tak mampu berdiri.

Tanpa setahu Hanacaraka, istrinya mendukung tim dokter yang hendak mencoba terapi baru yang aneh itu. Bahkan istrinya akan mengerahkan sejumlah warga untuk ikut datang memberikan tepuk tangan dalam acara di aula rumah sakit itu. Istrinya juga mengundang sejumlah wartawan abal-abal untuk memotret dan mewawancarai Hanacaraka sebagaimana wartawan sungguhan ketika mewawancarai pejabat penting.

Begitulah. Acara rapat di aula rumah sakit itu betul-betul meriah. Ketika Hanacaraka tampil dengan kursi roda di atas panggung, memberikan pidato dengan suara parau, semua yang hadir bertepuk tangan dan sejumlah wartawan abal-abal memotretnya berkali-kali.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved