Cerpen Maria Magdalena Bhoernomo

Hanacaraka

Sambil memandangi wajah dan postur tubuhnya, Hanacaraka merasa masih layak untuk berkiprah di ranah politik, sebagai gubernur atau bupati.

TIAP bangun tidur, Hanacaraka langsung berkaca di depan cermin. Sambil memandangi wajah dan postur tubuhnya, Hanacaraka merasa masih layak untuk berkiprah di ranah politik, sebagai gubernur atau bupati. Statusnya sebagai purnawirawan militer selama hampir lima tahun ini ingin segera diubah. Rasanya ingin sekali dirinya menyandang status baru, sebagai kepala daerah, yang setiap berpidato di hadapan bawahan atau rakyatnya selalu mendapat tepuk tangan dan diabadikan dengan kamera sejumlah wartawan untuk dipublikasikan di berbagai media.

Hanacaraka teringat sejumlah kawannya yang kini menjadi gubernur dan bupati. Lantas dibayangkannya dirinya ketika masih menjadi panglima Kodam sedang berpidato di depan barisan prajurit. Kini, tepuk tangan dan kilatan kamera wartawan yang merekamnya hanya tinggal kenangan, sering membuatnya merindukannya dengan amat sangat, sehingga ia sering terpaksa menggelar acara-acara tertentu dengan mengundang banyak orang dan sejumlah wartawan, agar ia bisa menikmati lagi tepuk tangan dan kilatan lampu kamera wartawan-wartawan yang bisa membuatnya sangat senang dan bangga.

Baginya, hidup di dunia ini rasanya hambar tanpa tepuk tangan dan kerumunan wartawan yang memotretnya denggan penuh semangat karena mereka akan mendapat amplop atau sekadar makan bersama secara gratis. Bagi sejumlah wartawan lokal, mendapat amplop dan diajak makan gratis pasti juga sangat menyenangkan karena gaji mereka rata-rata tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

Ingatannya tiba-tiba tertuju pada nasib sejumlah wartawan lokal semasa ia menjadi panglima Kodam. Mereka sering ngobrol tentang nasib masing-masing. Dari obrolan mereka, sering muncul keluhan-keluhan klasik tentang rendahnya penghasilan sebagai wartawan lokal sehingga terpaksa menerima amplop dan merancang perjanjian wawancara dengan pejabat-pejabat daerah pada saat jam makan siang agar bisa sekalian diajak makan siang sehingga bisa sedikit menghemat pengeluaran.

Bagi wartawan-wartawan lokal, makan siang gratis dengan pejabat-pejabat daerah biasanya di restoran atau rumah makan terkenal, pasti menunya istimewa. Bayangkan jika harus makan sendiri dan harus membayar menu istimewa sendiri.

Bahkan, ada sejumlah wartawan yang bilang mustahil berani masuk restoran atau rumah makan yang menyajikan menu istimewa yang mahal-mahal untuk ukuran mereka. Buktinya, mereka memang suka makan di warung tenda yang semua menunya murah kalau tidak ada pejabat daerah yang mengajak makan gratis.

Hanacaraka kemudian mencoba mencari kendaraan politik untuk mendukung keinginannya berkiprah di ranah politik. Sejumlah partai didekati. Tapi ternyata tidak ada satu pun partai yang mau dijadikan kendaraan politik olehnya. Semua partai menolak mendukungnya karena ia dinilai sudah tidak menarik lagi di mata rakyat.

Sekarang, menurut semua petinggi partai, purnawirawan militer yang hendak berkiprah di ranah politik cenderung dibenci rakyat karena rakyat sekarang lebih tertarik terhadap figur-figur baru dan muda. Rakyat sudah sangat ingin perubahan dan karena itu tidak akan sudi memilih orang-orang yang sudah tua.

Hanacaraka kecewa berat karena sudah jelas keinginannya untuk berkiprah di ranah politik tak bakal terwujud. Makin lama, rasa kecewanya semakin menyiksanya. Sering ia tak bisa tidur karena terus- menerus dirundung kecewa dan kerinduan terhadap gemuruh tepuk tangan dan kerumunan wartawan yang memotretnya.

Hanacaraka juga sering kehilangan selera makan sehingga istrinya merasa sedih gara-gara semua menu yang dimasaknya terbuang sia-sia. Istrinya juga sedih melihatnya makin sering murung dan bahkan sering mengigau dengan berteriak-teriak.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved