Cerpen Dadan Sutisna

Cinta Ada Matinya

DIPA tak menduga doanya akan dikabulkan. Ini malam ketujuh setelah ia beralih wujud menjadi telepon genggam.

DIPA tak menduga doanya akan dikabulkan. Ini malam ketujuh setelah ia beralih wujud menjadi telepon genggam, meringkuk lesu di sudut kamar dengan kabel menjuntai dari tubuhnya. Empunya masih mendengkur, selimut bergulung di kaki kanan, mulut ternganga seperti sedang melihat setan di langit-langit. Dipa sulit tidur lagi, ia benar-benar terganggu dengan dengkuran itu. Ia hampir tak percaya bahwa ada gadis cantik yang mendengkur begitu nyaring. Sangat bising, dan sama sekali tak berirama, sehingga ia yakin siapa pun tak akan sanggup tidur semalaman dengannya.

Dipa seorang mahasiswa Jurnalistik. Ia nyaris tidak memiliki kelebihan apa-apa dibandingkan dengan mahasiswa lainnya, kecuali penampilannya yang agak aneh, terutama baju dan celana yang jarang ia ganti sebelum berganti minggu. Selama tiga semester, Dipa menggandrungi Nining, teman sekelas, gadis yang selalu tampil dengan keelokan penuh di mata setiap laki-laki. Ia cantik, tinggi semampai, juga sangat wangi. Ketika ia berada di kelas, seolah ruangan itu berubah menjadi toko parfum.

Di kelas itu, banyak yang mendambakan Nining, tetapi mereka tidak separah Dipa. Mereka masih berusaha memperlihatkan sosok intelektual yang tidak gampang terjebak pada cinta yang kelam. Dipa tidak begitu, ia bahkan tergila-gila pada level yang paling ekstrem. Gadis itu telah menyingkirkan segala ingatan di otaknya. Ia tak peduli meninggalkan ujian karena asyik menulis puisi untuknya. Tindakan konyol sering ia lakukan. Ia pernah naik sebuah pohon hanya untuk mengamati cara Nining berjalan dari sebuah ketinggian. Ia juga pernah mengendap-endap menuju toilet wanita, menempelkan telinga pada pintu, mendengarkan gemercik air yang jatuh ke kloset. Belakangan ia membawa kemenyan dari kampungnya, dan diam-diam membakarnya tepat di bawah mobil Nining.

Begitulah, seperti seorang penembak yang memuntahkan peluru tanpa mengenai sasaran, berbagai upaya Dipa tak pernah membuat gadis itu luluh.

"Penampilanmu harus diubah. Mana ada perempuan yang tertarik dengan penampakanmu seperti itu," ujar Malik, teman dekatnya.

"Cinta tak ada logika. Ia akan melabrak batas-batas penampilan jika waktunya tiba," jawab Dipa, tetapi kemudian termangu dengan wajah yang kelam oleh penderitaan.

Setelah memahami berbagai kegagalan, Dipa berkompromi dengan dirinya sendiri. Seandainya nasib tak merestui, ia ingin diberi kesempatan agar bisa dekat dengan gadis itu. Sehari, seminggu, atau sebulan penuh. Ia kemudian mengajak Nining makan bersama, pergi ke perpustakaan, berdiskusi di taman, tetapi selalu mendapat penolakan halus. Dan itu membuatnya semakin terkapar, Nining sedemikian lembut dan senantiasa berseri, tak secuil pun menampakkan kebencian. Bibirnya selalu merekah, seakan-akan apa pun yang ia lihat hanya untuk diberi senyuman.

**

GAGASAN aneh itu muncul pada malam Jumat ketika Dipa membaca kembali puisi-puisi yang pernah ia kirim pada Nining. Tiba-tiba ia menghayal, alangkah senangnya jika ia menjadi telepon genggam yang selalu dipegang oleh gadis itu. Ia akan selalu dekat dengan gadis itu, nyaris tak lepas, bahkan bisa mengamati segala aktivitasnya siang dan malam. Dipa kemudian berdoa untuk itu. Berdoa semalam suntuk dengan segenap kekhusyukannya.

Jumat pagi, ia akan mengikuti mata kuliah Retorika. Bibirnya masih komat-kamit berdoa. Tiba-tiba ia merasa dirinya menghilang, lenyap begitu saja, kemudian berpindah pada suatu kegelapan. Dipa kaget setengah mati, ia tak dapat melihat apa pun. Ia hanya merasakan ada di sebuah tempat, sesak karena bercampur dengan barang-barang lainnya.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved