Cerpen Utomo Priyambodo

Lelaki Tua, Mawar, dan Kucing

APA yang ditunggu oleh seorang lekaki tua yang hidup sebatang kara selain datangnya hari kematian?

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Lelaki Tua, Mawar, dan Kucing 

"Aku tahu kamu telah berjuang sangat keras. Kamu adalah lelaki paling romantis karena kamu rela berhenti merokok demi aku." Istrinya menciumi Darsono bertubi-tubi.

Tanaman bunga yang dirawat oleh istrinya berjenis aneka macam. Ada mawar, kemuning, kembang sepatu, bugenvil, melati, anyelir, asoka, anggrek, serta kamboja. Ikan-ikan yang dipelihara dalam akuarium pun beragam. Mulai ikan maskoki, molly, lemon, platy, sepat hias, hingga komet. Namun semenjak istrinya meninggal, satu per satu tanaman bunga gugur dan ikan mati. Hingga kini, setahun berselang, yang tersisa hanyalah sebatang mawar dalam pot. Mawar merah yang warnanya tidak begitu merah. Mungkin itu pertanda bahwa sebentar lagi ia pun akan gugur seperti tanaman bunga lainnya.

Akuarium di dalam rumah telah hampa tanpa satu pun ikan, sehampa perasaan Darsono tanpa seorang pun yang mendampingi hidupnya di pengujung usia. Darsono yakin tidak lama lagi ia pun bakal meninggal menyusul istrinya. Bahkan ia berharap semoga hari kematian lebih cepat mendatanginya.

"Datanglah segera, lekas bawa aku kepada istriku," begitulah lirih hati seorang lelaki tua yang hidup sebatang kara.

Suatu hari seekor kucing memasuki halaman rumah Darsono. Entah kucing milik siapa. Barangkali hanyalah kucing liar atau kucing kampung. Namun Darsono masih dapat melihat dengan jelas bahwa kucing itu tampak begitu cantik. Badannya besar dan bulunya tebal. Kalau saja Darsono mengerti tentang kucing, ia pasti bisa menyimpulkan bahwa kucing itu masih termasuk jenis peranakan anggora.

Ketika kucing itu memasuki halaman rumahnya, Darsono sedang susah payah menelan sarapan paginya karena kurang selera. Sejak kematian istrinya Darsono telah kehilangan nafsu makannya. Meski begitu, ia tetap memaksakan diri secara rutin memasukkan makanan ke dalam mulutnya agar ia tidak sakit dan menyusahkan orang lain. Cukuplah ia menyusahkan orang lain ketika nanti ia mati. Kalau saja tubuh orang yang meninggal tak perlu dikuburkan agar tak menjadi bangkai yang bau, tentu Darsono tak perlu cemas akan menyusahkan orang lain juga ketika nanti ia mati.

Kucing itu mengeong-eong menatap Darsono dari jauh. Kebetulan menu sarapan Darsono pagi itu adalah sayur bayam dan ikan wader, sejenis ikan sungai yang kecil-kecil dan telah banyak dijual dalam keadaan matang dan garing yang terkemas dalam plastik di pasar dekat rumahnya.

Darsono melempar salah satu ikan wader ke dekat kakinya. Kucing besar itu datang mendekat dan melahap cepat ikan yang dijatuhkan Darsono. Darsono mengulanginya lagi dan sang kucing melahap kembali. Sejak hari itu sang kucing kerap berkeliaran di halaman rumah Darsono. Sebagai ungkapan rasa peduli dan kasih sayang yang masih tersisa dalam diri seorang lelaki tua yang kurus dan hidup sebatang kara, Darsono menyediakan sebuah kardus bekas dan potongan-potongan kain sisa yang hangat untuk tempat tidur sang kucing di halaman rumahnya. Hari ke hari sang kucing semakin akrab dan lekat di dekat Darsono. Hari-hari Darsono tidak hanya dihabiskan untuk mengurus dan memandangi sebatang tanaman mawar yang masih tersisa di halaman rumahnya. Kini ia juga mulai menghabiskan waktunya untuk memberi makan sang kucing serta mengelus-elus bulunya yang lebat. Sang kucing sangat senang bila leher dan kepalanya di elus-elus oleh Darsono. Sedangkan Darsono merasa bahagia setiap kali sang kucing mengelus-eluskan tubuhnya pada kaki Darsono sambil berjalan berputar-putar di antara kedua kakinya. Sambil menyirami dan menikmati keindahan sebatang mawar, Darsono bisa mengelus dan merasakan kehatangan serta kelembutan bulu-bulu seekor kucing.

Suatu sore sang kucing yang sedang berbaring di atas pangkuan Darsono melompat tiba-tiba ketika melihat kemunculan seekor tikus di tepi jalan dekat got depan halaman rumah Darsono. Kucing itu bergerak mengentak begitu cepat sehingga terjatuh menindih tanaman mawar. Pot tanaman itu terguling dan sang bunga mawar tertekan oleh jatuhnya tubuh sang kucing sehingga menjadi pipih. Kelopaknya rontok, batang-cabangnya patah. Meski berhari-hari kemudian Darsono mencoba memperbaikinya dan menyiraminya dengan air plus pupuk, tanaman mawar itu akhirnya tetap mati, tak bisa tumbuh kembali. Dan kucing peranakan anggora yang gemuk itu tak pernah kembali lagi ke rumah Darsono semenjak mengejar tikus got ke luar rumah. Hanya helaian bulu-bulu rontok cokelatnya yang tertinggal di sekitar halaman rumah.

Tak ada lagi yang tersisa. Mawar terakhir peninggalan mendiang istrinya telah sirna. Hanya kenangan-kenangan bersamanyalah yang mungkin masih ada dalam lamunan dan khayalan sepanjang hari Darsono. Lamunan dan khayalan yang sebenarnya lebih sering kosong. Hampa, seperti jiwa lelaki tua itu.

Dalam lamunannya sepanjang hari di kursi beranda, setiap kali melihat kucing lewat di depan halamannya, Darsono berharap-harap kucing besar berbulu cokelat itulah yang dilihatnya. Begitu pula setiap kali Darsono mendengar eongan kucing. Namun bukan kucing itu lagi yang ditemuinya.

Setiap hari Darsono tua menunggu. Entah apa yang datang lebih dulu, sang kucing ataukah hari kematiannya, Darsono menunggui keduanya.

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved