Cerpen Utomo Priyambodo

Lelaki Tua, Mawar, dan Kucing

APA yang ditunggu oleh seorang lekaki tua yang hidup sebatang kara selain datangnya hari kematian?

Lelaki Tua, Mawar, dan Kucing
Ilustrasi Lelaki Tua, Mawar, dan Kucing 

APA yang ditunggu oleh seorang lekaki tua yang hidup sebatang kara selain datangnya hari kematian? Sejak istrinya meninggal setahun lalu Darsono hidup seorang diri di usianya yang telah mencapai kepala tujuh. Usia Darsono di dunia telah melampaui usia Kanjeng Nabi yang hanya mencapai 63 tahun.

Selama menikah Darsono dan istri tidak pernah dikaruniai anak. Entah ia atau istrinya yang mandul, mereka berdua tak pernah mendebatkanya karena saling mencintai. Cinta dapat melengkapi apa pun yang kurang. Cinta dapat menolerir apa pun yang terjadi. Lagi pula, Darsono merasa sudah sangat beruntung bisa memiliki istri yang berwajah manis dan berperangai lembut. Istrinya begitu perhatian kepadanya. Darsono seperti memiliki seorang istri yang juga berperan sebagai ibunya. Darsono tidak pernah tahu atau ingat bagaimana sosok ibu kandungnya. Sebab, sejak balita Darsono telah menjadi seorang anak yatim-piatu yang dibesarkan oleh pengurus panti. Di usia delapan belas Darsono mulai keluar dari panti, bekerja sebagai pesuruh di kantor pos kabupaten.

Karena kinerjanya bagus, Darsono kemudian diangkat menjadi pegawai kantor pos yang bertugas sebagai kurir. Bertahun-tahun Darsono melakoni pekerjaannya itu hingga kemudian ia pensiun pada saat usianya enam puluh. Ketika usianya dua puluh tujuh Darsono menikahi seorang putir takmir masjid yang kemudian menjadi istrinya sampai ia tutup usia. Darsono begitu mencintai putri takmir masjid itu meski ia tak bisa mendapatkan anak darinya.

Mendiang istri Darsono adalah seorang perempuan yang ulet lagi ramah kepada siapa pun. Ia seorang istri yang penyayang kepada semua makhluk hidup, termasuk hewan dan tanaman. Semasa hidupnya sang istri gemar memelihara ikan-ikan hias di dalam akuarium dan tanaman-tanaman bunga di dalam pot-pot halaman rumah. Rumah mereka yang tidak besar masih bisa menampung sejumlah makhluk hidup lain yang dirawat baik oleh sang istri.

"Apa aku perlu membuatkan kolam? Kupikir jumlah ikan yang ada di dalam akuarium sudah terlalu banyak," tawar Darsono suatu hari.

"Tidak perlu, Sayang. Aku nanti akan memberikan sebagian ikan-ikan itu kepada para tetangga." Sang istri tersenyum manis. Hal itulah yang juga ia lakukan ketika tanaman-tanaman bunga di depan rumah sudah tumbuh tinggi dan dapat dilipatgandakan jumlahnya.

Sang istri yang murah hati memang mudah akrab dengan siapa pun, termasuk para tetangga. Tidak seperti Darsono yang agak kaku dan dingin menghadapi orang lain. Sejak kecil Darsono memang seorang yang introver. Para pengurus panti mengetahui betul wataknya. Meski begitu, para pengurus panti menyukai Darsono yang sangat penurut dan taat menjalankan tugas dan aturan panti. Darsono adalah anak yang ringan tangan bila disuruh atau dimintai bantuan oleh para pengurus dan penghuni panti.

Kini, ikan-ikan di akuarium sudah banyak yang mati dan tanaman-tanaman bunga di depan rumah sudah banyak yang layu dan kering. Tangan Darsono memang tidak sehebat tangan istrinya dalam merawat ikan dan tanaman. Selama sebulan sejak kematian istrinya ikan-ikan dan tanaman-tanaman bunga itu dibiarkan begitu saja oleh Darsono. Barulah di hari ke-31 setelah kematian istrinya, Darsono tergerak untuk melanjutkan kegiatan rutin istrinya itu. Dengan merawat ikan dan tanaman, Darsono merasa sedang mengenang istrinya pula.

Setiap hari Darsono menyirami tanaman dan memberi makan ikan seperti yang dulu biasa dilakukan oleh mendiang istrinya. Setiap minggu Darsono juga menguras air akuarium dan menyiangi juga memangkas rumput liar dan ranting serta daun kering di pot-pot tanaman bunga. Namun, tangan Darsono tidaklah sehebat tangan istrinya yang lembut. Meski sudah berusaha semaksimal mungkin menggantikan peran istrinya dalam merawat ikan dan tanaman, dalam selang waktu tertentu ekor per ekor ikan kemudian mati dan batang per batang tanaman gugur.

Melihat ikan dan tanaman bunga yang mati, hati Darsono tercekat merasakan kesepian yang makin tebal menaungi hidupnya. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang lelaki tua seperti dirinya dalam hari-hari yang sepi tanpa satu pun sanak famili? Tanpa sahabat dan kerabat sepantaran yang datang mengunjungi sebab kebanyakan mereka telah mati? Tanpa anak dan cucu yang tidak ia miliki? Seringkali kesepian itu menunculkan rasa nelangsa tersendiri.

Halaman
123
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved