Coffee Break

Kecewa

SEORANG sahabat dekat saya, pendukung fanatik Jokowi pada pemilihan presiden tahun lalu, mengaku pusing dengan sikap sang Presiden.

Kecewa
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

SEORANG sahabat dekat saya, pendukung fanatik Jokowi pada pemilihan presiden tahun lalu, mengaku pusing dengan sikap sang Presiden dan keputusan pemerintah akhir-akhir ini. "Harga bahan bakar minyak bisa dengan cepat turun-naik seperti celana kolor," katanya. Saya tersenyum mendengar perumpamaannya yang terdengar getir tapi mengandung kebenaran. Tapi saya tidak memberikan penjelasan apa pun. Pertama, ia memang tidak membutuhkan penjelasan. Kedua, saya juga tidak tahu mengapa harga BBM bisa turun dan naik dalam hitungan hari.

"Kalau kelak dia mencalonkan diri lagi, aku tidak akan memilih dia. Mungkin lebih baik golput lagi," ujarnya. Saya tetap tidak menanggapinya.

Seorang tetangga, yang juga memilih Jokowi tempo hari, geleng-geleng kepala menyaksikan perkembangan politik negeri ini. "Saya tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya negeri kita lima tahun mendatang. Dua tahun cukup, lah, buat Jokowi," ujarnya serius.

Saya mengangguk-angguk, memahami kegalauannya, seraya mencoba mengira-ngira berapa banyak orang yang dulu mendukung Jokowi dan kini galau, bahkan kecewa berat, terhadap kinerja Jokowi dan jajaran menterinya. Dapat dipahami kalau para pendukung Jokowi kecewa, bahkan mungkin menjadi antipati. Kita tahu, perasaan manusia bisa dengan cepat berubah seratus delapan puluh derajat. Dulu cinta, sekarang benci.

Selain perkara BBM, (pemerintahan) Jokowi membuat sejumlah rekor baru meski masa pemerintahannya baru beberapa bulan saja. Salah satunya soal (calon) Kapolri. Baru kali ini seorang presiden RI menghadapi masalah pelik dalam pergantian Kapolri. Masalah ini pun merembet ke soal lain semisal hadirnya hakim Sarpin Rizaldi yang membuat keputusan pembatalan status tersangka. Baru kali ini pula, sejak berdiri, KPK seperti lembaga yang terseok-seok karena digempur dari berbagai arah.

Kalau saja mereka yang dulu mendukung Jokowi itu punya kemampuan menulis, boleh jadi mereka akan beramai-ramai menulis surat untuk Presiden. Benar saja, ketika saya mencari di situs Google dengan kata kunci "surat untuk Presiden", saya menemukan sejumlah tulisan yang isinya unek-unek kepada Presiden Jokowi. Salah satu tulisan yang saya temukan berjudul "Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi", yang ditulis A.S. Laksana dan dimuat di Jawa Pos edisi Minggu, 1 Februari 2015. Saya kenal baik dengan A.S. Laksana dan dia pendukung Jokowi pada pemilu lalu. Begitu kuatnya dukungan buat Jokowi, terutama melalui status-statusnya di Facebook, dia dituding sebagai bagian dari tim sukses Jokowi.

"Saya salah satu pendukung Anda dan sekarang mulai kurang senang terhadap cara Anda memimpin pemerintahan negara ini.... Anda tampak tidak mampu menunjukkan kekuatan pribadi Anda sebagai pemimpin. Padahal saya ingin melihat Anda benar-benar menjadi presiden Indonesia, yang memiliki niat baik untuk menjadikan negara ini hebat, bukan petugas partai atau malahan alat untuk memuluskan kepentingan para patron," tulis A.S. Laksana antara lain.

Kekecewaan yang lebih mendalam dirasakan Fahd Pahdepie, yang sedang menempuh pendidikan di Monash University, yang juga dulu mendukung Jokowi. Fahd menulis surat terbuka dengan judul "Surat untuk Presiden Jokowi", yang diposting di akun Facebook-nya, Jumat lalu. O ya, di FB saya dan Fahd berteman, tapi kami belum pernah bertemu muka.

"Tahukah Bapak, di televisi, juga koran-koran dan majalah: Kami seperti tak punya presiden! Kami seperti tak punya pemimpin! Negara ini telanjur dikuasai para bandit dan bajingan tengik yang hanya tahu tentang memperkaya diri sendiri! Ah, mungkinkah Bapak tak sempat menonton TV atau membaca koran sehingga Bapak tak mengetahuinya? Tapi, ke mana saja sih Bapak selama ini? Ngapain saja di istana? Mana janji-jani Bapak yang dulu terdengar indah dan gegap gempita?" begitulah sedikit dari tulisan Fahd.

Ya, ya. Saya juga pernah menulis surat terbuka. Bahkan tulisan saya lebih dahulu terbit dibanding dengan tulisan dua teman saya itu. Saya menulisnya di kolom ini juga, pada 25 Januari 2015, dengan judul "Yth. Tuan Presiden". Sekadar mengingatkan, saya menulis antara lain "Kami sungguh berharap Tuan berpikir dan bertindak sebagaimana harusnya seorang presiden yang baik dan tegas, bukan terus- terusan mengenakan label petugas, apalagi dari partai yang tak cerdas."

"Apakah kamu menyesal telah memilih Jokowi?" tanya seorang teman.

"Tidak," jawab saya. "Aku hanya kecewa dengan kinerjanya."

Entahlah, apakah jawaban saya memuaskan dia atau tidak. (*)

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved