Sejarah

[Video] Lagu Genjer-genjer Cerminkan Penderitaan Rakyat Kecil

Lagu “Genjer-genjer” diciptakan oleh seorang seniman Banyuwangi bernama Muhammad Arief dan diciptakan sekitar tahun 1942-1943.

TRIBUNJABAR.CO.ID – Banyak karya seni musik seniman Indonesia yang tak lekang olah zaman. Muatan pesan dan kuatnya lirik lagu menjadikan lagu-lagu tersebut nempel di kepala, bahkan oleh orang muda Indonesia.

Satu diantaranya adalah lagu Genjer-genjer yang sempat dilarang beredar karena huru hara politik di negeri ini. Kini lagu itu bisa dinikmati sebagai sebuah karya seni yang indah dan memiliki pesan moral yang dalam. Tak percaya? Coba deh simak lagunya!

Lagu “Genjer-genjer” diciptakan oleh seorang seniman Banyuwangi bernama Muhammad Arief dan diciptakan sekitar tahun 1942-1943.

Saat itu Banyuwangi, yang sedari zaman kerajaan Majapahit terkenal sebagai salah satu lumbung pangan di pulau Jawa tak pernah mengalami paceklik serta kekurangan pangan.

Pada masa pendudukan Jepang, banyak warga Banyuwangi yang sedang memasuki usia produktif terutama kaum pria-nya ditangkap dan dijadikan sebagai pekerja paksa (Romusha). Mereka dikirim ke seantaro Nusantara bahkan sampai ke daerah Indo Cina (Thailand, Kamboja, Vietnam, Burma, dan Laos ).

Lagu ini menceritakan tentang keadaan masyarakat miskin di Banyuwangi kala itu, yang sampai harus makan daun genjer karena kekurangan makanan.

Lagu ini juga merupakan bentuk sindiran buat penguasa Jepang yang sudah membuat masyarakat Banyuwangi menjadi miskin. Lagu "genjer-genjer" diadaptasi dari lagu rakyat berjudul “Tong Alak Gentak” ali-ali moto ijo, yang sudah lebih dulu melegenda di Banyuwangi.

Dengan mengganti liriknya, lagu tersebut akhirnya dengan cepat menjadi lagu populer di masyarakat Banyuwangi kala itu.

Antara Lagu Genjer-genjer Dan PKI

Dilansir Kompasiana, cerita berawal pada tahun 1962 saat Njoto, seniman dan salah satu aktivis Lekra yang juga simpatisan PKI, berkunjung ke Banyuwangi, saat dalam perjalanan menuju Bali.

Saat itu lagu “genjer-genjer” ditampilkan oleh para seniman Banyuwangi untuk menghiburnya.

Njoto yang memang berjiwa seni tinggi, memiliki naluri bahwa lagu ini akan banyak disukai masyarakat Indonesia kedepannya, selain daripada lirik lagu ini yang memang mewakili keadaan bangsa Indonesia saat itu.

Sampai akhirnya Njoto menggandeng para seniman Banyuwangi, termasuk Muhammad Arief, untuk bergabung bersama Lekra.

Dugaan Njoto ternyata benar, tak lama kemudian, lagu "Genjer-genjer" menjadi sangat populer ke seantero Nusantara. Apalagi di tahun 1960 an, lagu itu sering dibawakan penyanyi-penyanyi “beken” era itu, seperti Lilis Suryani dan Bing Slamet (dalam albumnya “mari bersuka ria” pada tahun 1965), dan sempat dibuat vinyl (piringan hitam). Tak hanya sampai di situ saja, lagu genjer-genjer seakan menjadi lagu wajib yang sering diputar di TVRI dan RRI (dua media nasional yang ada saat itu).

Selepas kunjungan Njoto di tahun 1962 itu, hubungan antara aktivis Lekra dan seniman Banyuwangi semakin mesra. Njoto meminta M Arief untuk membuatkan beberapa lagu yang bernafaskan PKI antara lain lagu Ganefo, 1 Mei, Mars Lekra, Harian Rakyat dan proklamasi. Sebagai mantan tentara dan pegiat Seni, Muhammad Arief akhirnya diberi jabatan sebagai anggota DPRD Banyuwangi mewakili PKI. (abs/kompasiana)

Penulis: Fauzie Pradita Abbas
Editor: Kisdiantoro
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved